Pada Kesempatan yang Lain

Kelak di kemudian hari kita akan bertemu dalam situasi kikuk dan mungkin terasa asing. Kita akan sama-sama gelagapan tentang sebuah perjumpaan. Kita akan bingung memulai pembicaraan dari mana, apakah aku yang memulai dengan pertanyaan konyol dengan kata tanya, “bagaimana?” atau langsung berceracau dengan kata tanya, “mengapa?” kita sama-sama ingin memulainya dengan baik-baik namun diselimuti kegamangan yang tinggi. Kita menaja pada kesalahan yang kita justifikasi bersama.

Mungkin kita bisa saja memulainya dengan menerka hal yang kita tidak lewati bersama. Memulai percakapan dengan menyampaikan kesalahan akan membuat obrolan lebih cair. Sebab kita sama-sama sudah selesai ketika masalah sudah berhasil kita tertawakan bersama. Kita akan sama-sama menertawakan kita pernah sedemikian asing karena hal yang pandir, yakni menjaga hati. Mungkin bagi sebagian orang prinsipil, tapi apa salah berbincang selayaknya kawan akrab yang telah kenal sejak kecil. Atau jangan-jangan bukan itu alasannya, melainkan kita sama-sama takut bahwa kita pernah berbuat salah tapi tidak ada yang meminta maaf terlebih dahulu.

Aku berharap kisah itu menjadi pembuka untuk kita lebih mudah berbagi kisah tentang kemampuan kita bertahan hidup daripada hanya hanya sekadar bersitatap dan bertukar senyum semata. Aku berharap kita tidak sungkan untuk menceritakan semua yang telah terjadi. Barangkali kita perlu sedikit memodifikasi ruang seolah segala hal yang akan terjadi dalam perjumpaan itu sebuah upaya menebus kesalahan yang sebetulnya tidak pernah kita lakukan.

Kita akan membangun ruang imajiner yang bisa saja berbentuk sebuah tempat yang biasa saja, tidak mengubah struktur alam yang sudah ada. Mungkin hanya ada tempat berteduh dan beristirahat. Selebihnya, hanya bangunan yang tercipta karena alam menginginkannya untuk berubah. kita bisa mengambil bahan masakan dari sekeliling, memancing ikan dari atas jembatan, memetik daun sereh, cabai, dan rempah-rempah lainnya. Ruang itu tidak akan pernah bisa dimasuki oleh orang lain karena ia adalah wujud dari kealpaan kita selama beberapa waktu. Ia bisa muncul kapan saja, mungkin ketika kau sedang bersepeda ke taman, bengong di balkon kamar, muncul ketika kau sedang sulit tidur, atau sebagaimana Eva Cassidy sebut, “somewhere, over the rainbow.”

Perjumpaan kita akan diisi dengan hal yang tak pernah kita duga. Selayaknya sebuah pertemuan dengan teman lama, ia semestinya berisi tentang kebahagiaan, cerita tentang kesuksesan, dan menertawakan hal-hal bodoh yang baru saja lewat. Namun, perjumpaan kita juga akan diisi kelahi. Pada satu momen tertentu, kita akan saling menyalahkan dan berlomba berebut posisi terdepan atas yang kita lakukan di masa silam. Tapi, tentu aku yang menang. Sebab kemenangan perihal siapa yang lebih dulu menyampaikan kejujuran.

Aku sadar perjumpaan itu tidak akan membawa kita ke suatu masa, suatu tempat, atau suatu hal yang—barangkali—kita harapkan bersama namun tidak pernah kita ungkapkan. Kita sama-sama paham bahwa ada batas yang nyatanya kita telah bangun sejak sebelum perjumpaan itu hadir. Kita bisa saja terus berandai-andai, namun kita tahu sepandai-pandainya kita berandai-andai hal itu memang tidak akan pernah terjadi. Andai-andai kerap jadi barang mujarab manusia ketika mereka tidak kuasa memilikinya.

Kelak kita akan sama-sama berdoa agar perjumpaan itu tidak selesai begitu saja, tapi kita tahu doa saja tidak akan membawa kita ke mana-mana. Ia serupa penenang bahwa ada harap yang kita sematkan pada awan putih agar tidak menurunkan hujan—yang kemudian menyebabkan banjir. Perjumpaan itu selayaknya ujian: sejauh mana kita jujur dengan perasaan sendiri. Barangkali kita akan sama-sama paham bahwa dalam hubungan ada lebih dari satu perasaan manusia yang sulit dikendalikan. Ia bisa sewaktu-waktu membosankan, bisa pula penuh kasih sayang.

Kelak tidak akan ada lagi yang bisa kita lakukan. Kita tertegun dan mafhum bahwa tiap perjumpaan pasti berakhir dengan perpisahan. Pada titik itu, mau tidak mau, kita mafhum bahwa kita hanya menunggu waktu itu tiba. Menyebalkan. tapi kadang kita tidak bisa memaksakan apa yang kita mau. Meski kita pikir itu sesuatu yang baik.

kita bisa kapanpun kembali pada ruang imajiner itu. sebab, ia begitu dekat. mungkin berada di bawah bantal, mungkin berada di halaman depan rumah, di tangga, di pojokan perabot, di tumpukan buku, atau di bak mandi bersama dengan jentik nyamuk.

Pada kesempatan yang lain, kita berjalan pada koridor masing-masing. Pada sebuah momen, aku berharap kita bisa bertemu lagi. Entah sebagai karib, entah sebagai partner dalam hal lainnya. entah kapan waktu itu tiba.

Namun, terima kasih sempat singgah.

 

ditulis sambil mendengarkan Eva Cassidy – Over the Rainbow

Somewhere over the rainbow
Skies are blue
And the dreams that you dare to dream
Really do come true

One thought on “Pada Kesempatan yang Lain

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s