Yang Terekam di Atas Bantal

Aku terbangun menyadari air liurku telah membentuk pulau di atas bantal. Pipiku basah, rambutku tidak beraturan, selimut juga tidak lagi melingkari kakiku. Belakangan, aku suka sekali bangun siang atau tidur lebih panjang daripada biasanya. Ada kesengajaan yang aku lakukan agar aku merasa lelah, bersepeda dari Cipete ke Cibubur, melakukan perjalanan kaki sejauh sepuluh kilometer, atau mencuci pakaian kotor setiap harinya. Karena jika aku lelah, aku mudah untuk tidur. Pada waktu tidurlah aku hanya bisa bertemu kamu.

Aku menyesal bangun sepagi ini dengan perasaan yang belum tuntas. Seingatku tadi, makananmu belum habis. Kamu sedang bercerita tentang keseharian barumu mengurus tanaman, kursus make up, dan menjejaki hobi baru yakni memelihara ikan cupang. Katamu di masa pandemi begini harus lebih banyak kegiatan ketimbang gegoleran. Ucapan itu terdengar seperti sentilan buatku. Kegiatanmu mungkin adalah upaya agar kamu terus bergerak, berpikir, dan berkeringat. Sementara kamu tidak perlu repot untuk memikirkan sesuatu yang tidak kamu harapkan. Lain denganku, gegoleran sampai tertidur adalah caraku untuk bertemu.

Jika saja mimpi bisa kita atur, aku tidak perlu repot menjawab kebingunganmu untuk memberi nama pada ikan cupangmu. Sebab nama terbaik pun dia tidak akan menengok ketika kita panggil. Tapi, aku tahu kamu butuh waktu untuk pelarian. Kursus make up-mu kadang membuatmu lelah dan bosan. Kamu pernah mengkhawatirkan bahwa kursusmu tidak akan menghasilkan apapun kecuali uangmu habis. Lalu, kemudian kamu sempat memutuskan rehat memilih memelihara tanaman. Setidaknya, dengan menanam kamu merasa menumbuhkan kehidupan.

Barangkali memang pertemuan semacam ini yang aku harapkan. Memerhatikanmu seharian tanpa harus sibuk mengurus jadwal bepergian. Senang melihat kamu bisa bahagia dengan ikan dan tanaman. Aku melihatmu sebagai sosok yang bebas, tidak perlu khawatir dengan ucapan orang lain. Di situ, aku merasa kamu telah menaklukan ketakutan.

Aku teringat bagaimana kamu berupaya melupakan kejadian di masa silam yang membuatmu jatuh dan tersungkur. Kamu begitu linglung, begitu buta dengan kehidupan, sampai kamu tidak percaya lagi dengan siapapun yang ada di sekitarmu. Menyumpah, mengutuk mereka yang telah menjadikanmu seperti botol kosong di bawah wastafel.

Aku senang kita bisa kembali berbincang meski dalam kegelisahan. Lucunya, kita selalu didekatkan dengan masalah yang kita hadapi dalam waktu berdekatan. Kemudian kita saling mengeluhkan tentang kemunafikan seorang teman. Kita sama-sama bersepakat menyebutnya seperti bagian tahi cicak yang berwarna hitam. Sebab bagian itu yang paling erat menempel di dinding. Ia lekat, namun penuh mudarat.  Aku belajar banyak darimu tentang bagaimana memahami seorang teman yang hanya mau menikmatimu. Aku paham betul rasanya kamu diperlakukan seperti barang kodian lalu dijadikan bahan cerita ke teman-teman seolah mendapatkanmu adalah keberhasilan. Kemudian, ia merasa menang, padahal sesungguhnya ia yang memupuk kekalahan.

Kita tidak bisa kembali berpelukan, kita hanya bisa meratap dan saling mengingat bahwa kita pernah sedemikian dekat. Kita bagai kematian yang selalu mengiringi kita berpijak. Namun, kita tahu ada batas yang selalu membuat kita terpisah, yakni jarak.

Daripada semua peristiwa, mungkin kini aku percaya bahwa kebahagiaan terbesarku adalah melihatmu, memandangimu dari jauh, mungkin kita tidak sebenarnya bersama dan berbincang, tapi biarlah setidaknya ada sedikit kabar yang bisa aku dapat darimu, meski hanya dalam mimpi.  

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s