Kabar Dari Bukit

Aku sengaja mendaki bukit demi mendekatkan diri dengan tiang pemancar. sebab hingga petang pesanmu belum juga tiba. Aku pikir ada gangguan sinyal di rumah. dua hari setelah bertemu, kamu tanpa kabar. Baik memberi kabar, berpura-pura salah kirim, maupun mengirimkan doa dari pesan berantai grup keluarga. Setidaknya melihat namamu ada dalam antrean notifikasi amat melegakan. Setibanya di atas, aku tidak mendapatkan apapun. Malah, hujan lebih dulu tiba dan ponsel aku keburu mati sebelum datang pesanmu. Rasanya kita masih baik-baik saja. berbincang selayaknya tidak ada peristiwa yang pernah mengubah komunikasi kita selama ini.

Apakah kamu tahu bahwa menjadi orang yang tidak diinginkan adalah hal yang paling menyebalkan? Ia sedemikian menyakitkan. Hari hari aku hanya diisi dengan kekhawatiran yang isinya itu-itu saja. Namun, terkadang aku pun sadar bahwa kita memang berupaya untuk menemukan kesepian kita masing-masing. Mungkin sekarang aku yang repot, lalu giliran kamu berikutnya. Tapi, aku ragu. Aku percaya kamu terbiasa melakukannya sehingga sekali itu terjadi kembali hanya kamu anggap sebagai bungkus rokok yang terabaikan di jalan.

Aku tidak begitu mahir untuk menyembunyikan rasa sakit. Kadang, ia muncul di depanmu dengan sedikit senyum sambil sedikit berharap kau bisa memegang tanganku sebentar sekadar memastikan bahwa dirimu ada. Aku bisa menjadi makhluk paling ringkih dan tidak berdaya di depanmu. Ini ibarat Real Madrid ditinggal Sergio Ramos yang membuat klub penuh bintang itu mudah kebobolan dua gol. Nampaknya memang aku harus mulai terbiasa dengan kebiasaan baru. Berdiam diri dengan segala cara yang berujung pada membenci diri sendiri.

Terkadang aku ingin tiba-tiba memelukmu. Kamu begitu menggemaskan, kecil namun memikat. aku tahu itu hil yang mustahal. Pesanmu saja tidak lagi tiba, apalagi tubuhmu. Kendati kabar tidak juga kudapat, aku berdoa agar kelak aku tidak lagi memiliki harap. Menunggumu atau mengajakmu agar terus denganku. Aku rasa kini sudah tepat untuk tidak lagi memelihara luka.

Mungkin dengan kesepian kita masing-masing kita bisa saling menyenangkan. Tanpa harus merasa bahwa ada perasaan bersalah karena tidak lagi bersama. Kita masih bisa menikmati kopi kecil, pelan-pelan kamu juga bisa bercerita tentang hari-harimu, serta kegelisahanmu menghadapi masalah yang terus berulang. Aku tidak ingin lagi mendengarmu bercerita tentang kebencianmu pada orang lain. Aku hanya ingin mendengarmu tentang seseorang yang membuatmu merasa senang, tidak membuatmu gundah, dan selalu membayangi pikiranmu. Kamu tidak perlu menyebutkan namanya, kamu hanya perlu bercerita, aku akan setia mendengarkan. Sisanya, terserah pikiranku. Dalam pikiran, aku merasa semua berisi kebaikan ketimbang menghadapi kenyataan.

Aku senang bisa lepas menuliskanmu meski masih ada sedikit kepedihan bagiku kita tidak bisa berbincang dengan leluasa. Mungkin kamu tidak percaya pada tiap daging yang bernyawa atau aku sedemikian menyebalkan sehingga membuatmu khawatir untuk berbicara. Tidak masalah. Tapi, aku hanya ingin memastikan bahwa kebersamaan yang kita bangun dan simpan berdua akan membuat kebahagiaan bertahan lama.

Kini aku sudah berada di rumah. Namamu muncul pada layar ponselku. Pesanmu kubuka,

“aku baik-baik saja.”  tulismu tiba-tiba.

2 thoughts on “Kabar Dari Bukit

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s