Pesan Kepada Bukit

Menggelikan sekali setiap kita berlomba tentang yang paling tahan untuk memulai percakapan. Ada rasa keki tiap kali mendengarmu berucap bahwa kamu tidak ingin memulainya. Mungkin kamu malas atau takut luka, aku bisa paham. Tapi, aku juga tidak tahan untuk berpura-pura bahwa aku bisa lebih daripada kamu. Aku mungkin bisa samar-samar untuk menunjukkan bahwa aku kuat, tapi mungkin hanya sesaat. Sekitar dua menit. Itu pun ketika aku harus dipaksa ibuku pergi ke pasar swalayan lalu menemukan barang yang dituju tidak ada di tempat. tiba di rumah, aku pusing.

Di sisi lain, aku khawatir kamu tidak merasakan hal yang sama denganku. Kamu tahu rasanya terabaikan? Atau bergerak maju sendiri sementara kamu tahu yang lain diam? Lebih baik aku turut diam saja ketimbang harus menghabiskan waktuku untuk ketidakpastian. Bisa tidak sih, kita buat kesepakatan bersama agar kita sama-sama yakin kita tidak akan memelihara luka agar kita bisa leluasa berbicara. Kamu tidak perlu gusar. kamu hanya perlu menjadi pendengar. Berdiam dan aku akan memelukmu diam-diam.

Kiita dapat berbincang tentang kekhawatiran jumlah hari hujan yang kian berkurang dari tahun ke tahun tapi curah hujannya relatif tinggi sehingga daya rusaknya dapat lebih besar atau tentang supir bajaj yang mengangkat setengah bagian bokongnya ketika belok atau tentang sepasang burung lovebird-mu yang sedang birahi. Tapi aku tidak yakin kita bisa melakukannya. Ada banyak kekhawatiran dalam bayanganku, salah satunya kamu tidak menginginkan hal yang sama. Barangkali kamu tidak yakin karena pengalamanmu di masa silam menahanmu untuk berekspektasi pada seseorang. Percayalah, kita semua diciptakan untuk saling mengkhawatirkan. Kita tidak bisa percaya begitu saja pada segala bentuk makhluk hidup. Ia bisa saja tiba-tiba menerkam, bisa tiba-tiba memanjakan. Tapi, kita bisa kelabui mereka dengan kesepakatan.

Kita bisa susun satu per satu untuk sama-sama bahagia, saling memberi kabar, saling menginginkan, tanpa harus saling merasa khawatir. Jika kamu tidak yakin, aku berani jamin di atas materai, bahkan di bawah kitab suci untuk sama-sama saling menjaga. Tapi, aku rasa tidak perlu. Aku mempercayaimu. Kamu tidak perlu melakukannya. Aku hanya perlu meyakinkamu bahwa aku benar-benar menginginkan kita dapat berbagi teentang hidup kita lebih dari sekadar melempar senyum dan bertukar sapa.

Barangkali kamu sudah cukup dewasa untuk menghadapi semua. Aku melihat teman-temanmu begitu dekat dan ramai. Sehingga bagimu kerinduan bukanlah soal yang perlu diberi perhatian. Ia kamu anggap enteng seperti kau tidak perlu menyalakan lampu sein di tiap belokan komplek rumahmu. Sementara, aku sendirian memendam kerinduan. Terkadang, tanpa sadar perasaan yang hanya muncul dalam kepala mewujud nyata membuatku uring-uringan. Melakukan sesuatu yang tidak jelas menganggap kau memerhatikan. Padahal tidak juga. Kamu mungkin tidak ada di sana. Kamu mungkin sedang tertidur pulas karena kelelahan bersepeda.

Ketahuilah bahwa aku di sini menginginkanmu. Aku merindukanmu dengan sadar, bukan saat aku sedang butuh atau tak mampu menjaga diri. Aku harap kamu juga demikian. Aku tidak ingin ada lagi adu kuat tentang siapa yang paling tahan untuk memulai percakapan. Sebab terlalu banyak kesempatan yang kita lewatkan ketika kita terus berupaya menahan perasaan.  

p.s. tulisan ini merupakan sekuel dari tulisan sebelumnya Kabar dari Bukit

One thought on “Pesan Kepada Bukit

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s