Yang Tak Sempat Tersampaikan

Hari ini aku seperti babi yang baru makan dua kilo rumput rumput liar. Kelehahan, bau, dan ingin rebahan. Tapi aku bahagia. Aku bisa melakukan sesuatu tanpa harus menanyakan kabarmu atau apa yang sedang kamu lakukan—yang kerap kali membuat kepalaku lelah. Aku sengaja tidur larut malam, lalu bangun telat. Aku berencana membuat somay dengan resep sederhana yang kutemukan di dunia maya. aku akan banyak melakukan kegiatan tanpa harus memikirkan keberadaanmu. Bukan melupakanmu, tapi aku tahu memikirkanmu hanya berujung pada kecurigaanku semata.

Aku berharap kamu terus baik-baik saja. ada sesekali pikiran muncul dalam benak yang ingin aku sampaikan. Namun aku tahan, semisal tentang keran yang bocor, cat tembok yang mengelupas, atau perihal aku yang belakangan tiap menit ingin modol. Rasanya semua hal ingin kubagikan padamu. bagiku, tidak ada lagi penting atau tidak penting. Buatku, kau bagai kotak surat yang senantiasa hadir setiap kali aku ingin mengirimkan pesan. Kau ada di situ.

Sebetulnya, banyak yang ingin aku tulis. Tapi, aku lebih suka berbicara. Kau tentu tahu ini. kau seringkali menegurku karena aku terlalu banyak bicara. Barangkali itu tidak akan terjadi jika kita berada dalam satu ruang. Kita bisa bebas berbicara tentang ini itu. kita akan saling meledek, mencerca, tapi dalam tetap dalam koridor bahwa kita diam-diam saling mencintai. Itupun jika kau mau. Atau jika memungkinkan bagimu.
Hai,

Ada sederet doa yang ingin kusampaikan padamu. pertama, semoga kau mengerti bahwa tiap pertengkaran selalu melahirkan jawaban. Barangkali pahit bagi kita, namun kau tahu kita setelah itu lupa. Kuharap kau bukanlah fatamorgana yang bisa hilang tiba-tiba.

Kita kerap kali menduga perihal yang terjadi esok hari, sementara kita kadang lupa yang telah kita perbuat, lalu kita bergumul tentang sesuatu yang kita khawatirkan dan kenyataan. Kita membuat imaji kita hidup dengan ketakutan yang kita susun sendiri. lantas, kita bisa bebas berbuat semau kita, tanpa batas, menjadi sintas.
Aku ingin kita bersama-sama meracau seperti burung yang kelaparan. Rasanya, kita bisa sama-sama berhitung pelan-pelan tentang siapa yang lebih dulu berbuat salah. Lalu kita bertengkar, baikan, bertengkar, baikan, seperti lelucon peradaban yang berulang dan terus terjadi.

Tapi kita sama-sama sadar bahwa kita bagai catatan akhir sekolah yang bisa kenang sewaktu-waktu saat kita sendiri. kita mencipta tuhan kita sendiri yang bisa kita tafsirkan sesuai dengan kehendak hati. Aku hanya berharap ketika kamu menyadari hal ini kau hanya bisa terdiam. Lalu kita bisa bertemu lagi pada satu momen di mana kita bisa saling beradu pendapat tentang siapa yang benar. Aku ingin kamu punya selalu alasan untuk sehat dan kita bisa main kembali.

Aku tahu tulisanku tidak beraturan. Tapi aku senang. Aku bisa menyusunnya menjadi tulisan panjang. Ketimbang hanya mengeluhkan padamu dan menjadi amarah yang dalam waktu satu jam akan menghilang lalu kau lupakan.

Aku harap aku bisa segera terlelap dan bangun ketika semua keadaan sudah seperti semula.

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s