Kabar

Aku pikir kita sama-sama paham bahwa kabar terbaik adalah kabar yang tersampaikan. Sebab ia melegakan dari ketidaktahuan yang sempat terpendam Kita bisa saling menuding atau mengharap saat saling diam. Aku bisa saja menganggap bahwa kebijaksanaan perihal merelakan, sedang kamu merasa bahwa amarah dan dendam adalah jawaban. Barangkali betul jika pikiran adalah bagian terliar dari manusia. Ia bisa mengajakku berkeliling, membuatku lupa, hingga pada akhirnya aku mengetahui bahwa kamu sebetulnya tidak pernah ada. Aku belajar mengakui kenyataan kalau kebahagiaan terbesar bukanlah berhasil mendoakanmu dari jauh, melainkan bersamamu.

Kamu mungkin berpikir bahwa aku cukup bijak menerima perpisahan. Nyatanya tidak. Aku kerap membiarkan kisah masa silam untuk menghantuiku terang-terangan. Sebenarnya menyakitkan, tapi lebih menenangkan ketimbang aku harus berpura-pura kuat melupakan. Kadang hidup memang perihal upaya melawan ingatan, yang sebenarnya kita lebih sering dipaksa menyerah karena kenangan datang keroyokan.

Mungkin jika manusia diberi kesempatan untuk menentukan kapan perlu kecewa, aku tidak perlu menuliskan surat ini. mungkin tidak ada sesal, tidak ada dendam, tidak ada psikiater sehingga tidak ada perang dan PBB tidak perlu pusing-pusing mencari jalan kedamaian. Tapi, nyatanya memang kita mudah takluk pada perasaan.

Perasaan dilahirkan dari perjalanan. Ia yang menciptakan kisah, melahirkan harapan, memberi kebahagiaan, sekaligus menetapkan pilu yang melelahkan. Kamu adalah alasan aku berani memacu motor dengan ugal-ugalan sepanjang dinginnya jalanan di Padalarang. Aku mengingat bahwa bersamamu membuatku memiliki kendali atas hidupku sendiri. Aku bisa lebih berhati-hati, memilih kencang, atau memacu gas perlahan, aku bisa membuatmu merasa nyaman sepanjang perjalanan.

Di lain waktu, aku mungkin mudah tertekan. Hidupku seperti tidak memiliki pilihan. Tumpukan pekerjaan, daftar jadwal pertemuan, dan berbagai hal yang membuatku berlaku sopan karena tuntutan. Kamu mungkin paham rasanya berjalan namun kamu tak punya kesempatan untuk menentukan kamu harus berhenti untuk sekadar minum, memakan cemilan, selonjoran dan rebahan. Tapi, aku bisa sedemikian tenang melupakan segala gangguan saat bersamamu. Aku mampu mengendalikan perjalanan, memegang kendali pada kehidupan.

Mungkin aku berlebihan, tapi pernahkah kamu merasa mendadak lupa berkedip ketika kamu berada di samping seseorang? Lalu, kamu kikuk mulai menggerogoti kulit-kulit kering pada jarimu, dan lebih banyak diam namun senang seolah beban berat dipundakmu menghilang? Lantas, satu-satunya hal yang kamu bayangkan adalah membagikan berbagai hal kepadanya, sebab kamu meyakini bahwa itu adalah hal sederhana yang paling melapangkan. Barangkali yang kita perlukan adalah tekad untuk menyampaikan perasaan, sebab ia membuka segala kemungkinan.

Aku hampir tidak ingat kita bicara apa saja, namun aku ingat betul ketika kita tiba-tiba tertawa mengingat atas kepolosan masa kecil kita mengidolakan orang yang sama, saling menyudutkan zodiak, dan menyelesaikan kalimat satu sama lain. Aku pikir kita sadar bahwa kita mengantuk saat itu, namun kita meyakini juga kalau semakin cepat menutup mata, semakin cepat pula kita lupa pernah bersama.

Nampaknya, setelah puluhan tahun hidup, kita masih juga lupa bahwa perjumpaan satu paket dengan kehilangan. Rasa-rasanya, tiap kebersamaan adalah persinggahan sekejap yang selalu ditutup dengan “Thank you for stopping by.” Perpisahan yang adalah kemestian yang tidak bisa dipahami. Tapi, perpisahan paling menyedihkan aku rasa perpisahan tanpa kabar. Ia mampu membuat hidupmu tiba-tiba semrawut, berteriak, berjalan sendirian, menunggu tertabrak untuk berharap ketika kejadianku tersyiarkan, seseorang akan datang. Kamu tahu? Bahwa kebersamaan turut melahirkan kita menjadi pesakitan yang memukuli kita tiap harinya dalam kesendirian. Aku mungkin terlalu naif menganggap semuanya bisa baik, bisa kita atur selayaknya kontrak pemain bola dengan agennya. Kukira aku terlalu cinta untuk berpikir tenang bahwa hidup perihal merelakan kekecewaan.

Kurasa cukup untuk mengatakan bahwa kabar terbaik adalah kabar yang tersampaikan. Jika sempat, aku harap bukan kabar buruk, kabar yang memintaku untuk berhenti mengharapkanmu kembali.

Terima kasih.

Semoga kamu selalu baik.

2 thoughts on “Kabar

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s