Jalan yang Kita Pilih Sendiri

Saya akan memulai ini dengan terima kasih kepadamu yang memberi waktu dan kesempatan. Barangkali tanpamu, kupikir saya tidak pernah belajar perihal perpisahan. Saya pikir program wajib belajar 9 atau 12 tahun tidak pernah disiapkan untuk menghadapi hal semacam ini. Dari kecil, kita kerap diminta menjejaki anak tangga untuk sampai ke puncak tangga yang entah ujungnya. Selama manusia tumbuh, ia lebih sering diajarkan untuk menggapai, bukan menerima. Sampai pada akhirnya, kita kikuk ketika sesuatu tak sejalan dengan keinginan kita. Pada kenyataan itu, kita seringkali dihidupkan kembali dengan pameo a la boomers yang guilt-trip pada anak-anaknya, “dulu saya merasakan hal yang lebih parah daripada ini.” lantas, kita berusaha keras bertahan di bawah firman “That which does not kill us, makes us stronger”

Saya mungkin tercipta dari situasi demikian yang kerap membuat saya merasa biasa saja atas perasaan yang dialami oleh orang lain. Padahal, bisa jadi, ia benar-benar merasa pedih, sakit, dan butuh teman. Seringkali memang keburukan saya timbul dari hal-hal yang saya ambil dari sikap orang-orang terhadap saya, sehingga membuat saya kerap mengukur perasaan orang lain dari sepatu saya. Terkadang, hal itu membantu saya untuk beberapa hal. Beberapa hal lain justru menyiksa. Tentu kamu pun paham tentang “mereka yang kita sayangi, mereka pula yang paling mampu melukai.” Lantas, saat kita berada dalam posisi itu, kita benar-benar terpukul dan sulit bangkit.

Saya sempat merasakan itu ketika harus membereskan hal-hal yang berkaitan perasaan. Sialnya, saat itu saya merasa seperti gulungan tikar bambu yang bersandar pada tembok. Karena usang, anyamannya perlahan turun ke lantai, rontok, berserakan di ubin. Memerlukan waktu dan niat untuk bangkit membereskan serpihan anyaman tersebut supaya ruangan itu bisa kembali bersih dan dapat digunakan. Pada kondisi itu, saya hanya bisa merasa cemas, takut, dan cukup emosional. Pemicunya adalah pikiran saya sendiri. Pada akhirnya, ketika tidak ada lagi orang yang bisa saya percaya, saya hanya bisa percaya pada pikiran saya sekalipun membuat saya menjadi manusia paling bersalah yang pernah ada.

Barangkali orang hanya kecewa ketika sesuatu terjadi tidak sejalan dengan kemauan, namun saat itu saya merasa kenyataan yang sejalan dengan kemauan juga tidak baik bagi pikiran. Terlebih, saat kita sedang kerja keras untuk merelakan. Bagi saya itu perasaan yang cukup menyakitkan, namun belakangan saya harus sadar bahwa—memang—kamu punya jalan, saya pun juga demikian, jalan yang kita pilih sendiri.

Tapi memang kadang kenangan bergerak seperti boba pada milktea. Ia terlihat bulat hitam, namun ketika kamu menyedotnya, ia bisa saja membuatmu tersedak, membuatmu linglung, dan berhenti sejenak. Ya, mungkin kalau manusia tumbuh tanpa perasaan, menjadi pesakitan adalah hal biasa. Nyatanya, perasaan itu yang sering membuat kita kepikiran.  Ada banyak hal yang telah saya sampaikan padamu secara langsung, baik saat kita masih dekat, maupun pada kesempatan lain saat saya mengungkapkan perasaan yang tertinggal. Rasa-rasanya tidak nyata, tapi nyata. Menggelikan melihat ingatan bekerja. Kadang kita merasa tidak dihargai saat mengingatnya, kadang juga merasa terpanggil atas kedatangannya.

Betul bahwa manusia senang dicintai, bahwa manusia senang ada yang mendekati, tapi kamu perlu juga ingat ada manusia yang juga tidak ingin direpoti, merasa berhutang budi karena kebaikan orang lain. Mungkin salah sekian dari orang itu adalah saya. Saya mengukur sejauhmana saya bisa mengambil langkah dan bergerak. Sayangnya, saya lebih sering untuk diam dan menunggu keajaiban yang datang.

Barangkali ini ungkapan kegelisahan. Tapi, itu yang ada di pikiran. Saya khawatir saya harus merasakan hal yang sama berulang-ulang, menjadi bodoh, usang, dan tertinggal seperti manusia yang tidak tahu caranya berjalan. Tentu saya juga berharap orang selain saya, termasuk kamu, untuk turut merasakan. Kamu bisa tiba-tiba tercerabut seperti teman jahil yang menukil kepalamu tanpa sebab. Lalu, kepalamu berlubang memberi jalan keluar bagi darah untuk mencapai lantai membuatmu buta, lupa ingatan, dan sakit berkepanjangan. Pada titik itu, saya menyadari bahwa kenyataan yang sejalan tak selalu baik untuk pikiran.

Beberapa ingatan tetap pada tempatnya. Kerikan itu, cubitan itu, sikap itu, dan beberapa hal yang semestinya kamu lupakan tapi tidak kamu lakukan. Hal-hal merepotkan yang membuat kamu merindukan seseorang yang tak semestinya. Namun, memang ada hal-hal yang kita rasa baik untuk tetap pada tempatnya, untuk sesekali dicek, sebagai cara baik untuk merawat tanpa perlu mengeluarkannya.

Pada akhirnya, pertemanan yang menghidupkan. Selagi kita masih bisa saling bertukar kabar, menyampaikan kejujuran, bahkan mengeluarkan umpatan, saya rasa itu adalah hal yang paling melegakan, juga membebaskan.

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s