Kepada Puan: Meledek Nasib

Puan, aku hendak mengeluh tentang kemalasanku belakangan ini. Hampir sebagian besar kebiasaanku dulu, kini enggan kulakukan. Entah apa yang melatarbelakanginya, entah bagaimana aku menanggulanginya. Buku-buku yang kubeli butuh waktu sebulan untuk kuselesaikan. Minat baca seperti berkurang, begitupun minat menulis. Musik-musik yang kudengar hanya sebagai hiburan sesaat, formalitas, seperti bapak-bapak yang membiarkan televisinya menyala ketika ia hendak tidur. Namun, bukan berarti aku tidak mengerjakan apa-apa. Beberapa pekerjaanku selesai sebelum waktunya, meski beberapa sengaja kutunda. Pembelaanku sementara ini hanyalah kemalasan musiman. Mungkin bisa jadi salah, bisa jadi benar. Tapi tidak ada salahnya bukan membela diri ketika kita merasa tertekan? Iya, iya, asal tidak berlebihan aku selalu ingat petuahmu.

Puan, barangkali kita perlu berjumpa lagi barang tiga puluh menit saja. Perkara aku akan habiskan dengan menatapmu saja atau kita berbincang sampai mulut berbusa itu urusan nanti. Kita bisa buka perjumpaan itu dengan saling meledek tubuhmu yang membesar atau kulitku yang takkunjung memutih. Tiga puluh menit memang tidaklah cukup, tapi kurasa waktu yang baik untuk memulai. Bagaimana? kau setuju?

Continue reading “Kepada Puan: Meledek Nasib”

Advertisements

Orang-Orang di Rumah Sakit

Minggu lalu saya menjenguk teman saya di salah satu rumah sakit di Jatinangor. Sebetulnya tidak sengaja karena ada teman kuliah yang sakit. Sebetulnya juga, saya kurang begitu suka melakukannya. Bukan saya tidak solider, melainkan saya benci rumah sakit. Di rumah sakit tidak ada kebahagiaan. Di sana hanya ada harapan, yang entah akan terkabulkan atau tidak.

Saya ingat, tahun 2011 saya hendak meminjam mobil sama bapak untuk pergi mengunjungi acara dari komunitas saya. Di waktu bersamaan, pakde saya (tiba-tiba) sakit. Mobil yang saya mau pakai pun harus dipakai mengantar pakde saya ke rumah sakit. Saya pun ikut mengantarnya sambil berharap pakde hanya dicek sebentar, diberi obat, lalu pulang dan saya bisa menggunakan mobil setelahnya. Tapi, sampai di sana dokter menyarankan untuk dirawat. Saya menemaninya masuk ke ruangan IGD. Ia berbaring di ranjang pasien, lengannya disuntik, kemudian dipasang infus. Kami pun bercanda seperti hari-hari biasa. Raut wajah pakde pun tidak seperti orang yang sedang sakit. Saya meledeknya beberapa kali. “ah, perasaan tadi baru beli nasi padang sama kerja bakti, masa tiba-tiba masuk rumah sakit?” ledek saya. Ia hanya tersenyum. Saya tidak tahu apakah ia menahan sakit atau tidak. melihatnya tersenyum sedikit melegakan hati.

Sementara, saya mulai rungsing. Di saat acara komunitas saya sudah mulai, dokter menyarankan pakde untuk rawat inap. Alhasil, kendaraan yang awalnya saya gunakan untuk pergi, harus kembali ke rumah untuk mengantarkan pakaian selama menginap. Saya semakin kesal. Pertama, saya tidak percaya pakde sakit. Kedua, saya batal datang ke acara yang sudah saya jadwalkan sejak lama. Saya dan keluarga berganti shift untuk menemani pakde di rumah sakit. Sore hari, ibu mengabarkan saya pakde sudah tiada. Dengkul saya melemas, pikiran saya melayang, rasanya kepala mau saya benturkan ke dinding. Tangan saya gemetar mengendarai motor kembali ke rumah sakit. Tiba di sana, orang yang tadi pagi bercanda sama saya, kini sudah ditutup kain putih. Di pangkal mata saya sudah menggenang, tak lama ia pun tumpah.

Duka itu membekas hingga sekarang. Saya mulai sebal tiap mengunjungi rumah sakit, kecuali ia memunculkan kebahagiaan seperti lahiran. Sisanya, saya merasa hanya turut sedih tanpa bisa membantu apa-apa, selain doa yang bisa dilakukan di mana saja. Untuk urusan yang tidak begitu mendesak, saya sebisa mungkin untuk tidak berurusan dengan rumah sakit—meski beberapa kali gagal karena saya harus dioperasi dan menemani bapak operasi. Hahaha.

Sebisa mungkin di rumah sakit saya berusaha membuat suasana ceria. Bagi saya, suasana rumah sakit sebegitu mencekam sehingga tak perlu lagi dibuat tidak nyaman atau membuat pasien semakin ketakutan. Doa-doa tetap dipanjatkan, namun hiburan dalam hal kecil pun juga patut dirayakan. Sebab suasana semakin “mencekam” ketika doa-doa yang diucap di rumah sakit jauh berbeda ketika di masjid. Mereka lebih lantang. Mereka lebih berharap. Di saat itu, saya berpikir, selain menakutkan, rumah sakit juga telah mengambil fungsi pranata lain.

Di rumah sakit, kita dipaksa mengenang. Sebagaimana mengenang, ia selalu memberi beban, yaitu harapan. Kita mau tidak mau mengingat keadaan orang ketika sehat, ketika kita berbincang bebas, ketika kita tertawa seperti tidak ada beban di pundak, kita melihat kenang-kenangan itu nyata di rumah sakit tapi kita sadar itu tidak akan membawa kita ke mana-mana. Rumah sakit mengurung orang yang sakit, jiwa maupun pikirannya. Benar apa apa yang dibilang oleh Pram, rumah sakit tak lebih dari rumah tempat orang yang tak bebas mempergunakan tubuh dan hidupnya sendiri.

Tentu yang saya dan rumah sakit adalah ketakutan sendiri. Entah sampai kapan, pengalaman akan terus membekas, menempel di bagian kecil di kepala saya yang sewaktu-waktu muncul menjadi beban pikiran. Pantas saja Pram berharap dunia ini seperti pasar malam, ketika orang berduyun-duyun datang, berduyun-duyun pergi. Tapi, itu sesuatu hil yang mustahal. Di rumah sakit tidak ada wahana bianglala, halilintar, atau kora-kora. Di rumah sakit, kita hanya menunggu kapan kecemasan dan harapan akan bertemu.

 

Post-scriptum: saya mendapat kabar teman saya kondisinya berangsur membaik. Semoga terus stabil ke depannya. Sementara, untuk semua orang yang sakit: semoga segera diberi kesembuhan dan bisa menjalani kehidupan seperti sedia kala. Al fatihah…..

 

Menemukan Burung Pak Mul

Menemukan Burung Pak Mul

Setiap pagi di akhir pekan, saya biasa duduk di teras sambil baca koran dan minum kopi. Bukan sebuah ritus, hanya mencoba membiasakan diri dengan menjauhkan pagi saya dari ponsel. Saya tahu kegiatan itu tidak begitu penting dan banyak orang yang merasa hidupnya sudah cukup tanpa harus mengisi pagi dengan kegiatan-kegiatan tertentu. Tapi, setidaknya ini lebih baik untuk saya ketimbang hanya mengisi pagi dengan ngulet, makan, dan buang air tok.

Di waktu yang sama, biasanya ada tetangga yang sedang mencuci kendaraannya dan bapak-bapak yang sedang momong cucunya. Satu waktu, saya berdiri depan rumah dan lewatlah bapak dengan cucu di gendongannya, Pak Mulyono. Ia bertanya seputar pekerjaan saya, kabar saudara saya yang dikenalnya, dan hal-hal klise lainnya. Pak Mulyono cukup dikenal di komplek saya tinggal. Dengan sarung yang dilipat berkali-kali di pinggang dan mengenakan kaos kutang, ia selalu mengajak ngobrol orang-orang yang ditemuinya saat sedang momong cucu.

“itu burung, bapak yang punya, mas?” telunjuknya mengarah ke arah kandang burung di belakang saya. “saya juga ada Kenari di rumah, kalau pagi lumayan bikin ‘berisik’ rumah” lanjutnya cerita tanpa diminta. Beliau paling senang kalau lawan bicaranya paham soal dunia perburungan. Baru niat saja saya mau menanyakan tentang cucunya, saya terpaksa mendengarkan cerita Pak Mul.

Continue reading “Menemukan Burung Pak Mul”

Ada Pak Kayam di Rumah Mbah

Ada Pak Kayam di Rumah Mbah

“saya mau coba, mbah” pinta saya menunjuk ke arah barang lonjong dari tembaga. Ia mencolek isinya dan mengarahkannya ke saya. Telunjuk saya mengambilnya dan mengoleskannya ke lidah. Belum sepenuhnya saya coba, saya membuangnya. Mbah putri tertawa sambil menunjukkan gusi yang tak bergigi lagi.

Selepas isya, ia sudah dengan posisi biasanya. Duduk di samping tv sambil menyiapkan peralatan nyirih­­ miliknya. Di depannya, duduk saya menonton acara televisi yang diulang dari tahun ke tahun tiap lebaran. “tok.. tok… tok..” suara penumbuk yang beradu dengan tembaga mengganggu saya yang sedang menonton. “mbah, pelan-pelan” tegur saya. Matanya mengarah lurus ke arah televisi, ia tetap melanjutkan numbuknya dengan suka cita. Saya diabaikannya. Entah ia tidak mendengarnya, entah ia sengaja melakukannya. Tidak lama, Saya dibisiki pakde, “mbah, mau nonton tinju itu”. saya mengangguk pasrah.

Hampir tiap saya mudik, saya berebut tv dengannya. Saya memilih tontonan apa saja, umumnya humor. Sedang, mbah hanya mau menonton tinju. Kalau hajatnya belum terpenuhi, ia akan rungsing dan menggerutu saat saya menonton. Ia bukan penonton fanatik tinju yang tiap jap atau uppercut­-nya tepat mengenai lawan lalu berteriak, ia hanya menikmati pertandingan tinju sambil menumbuk sirih dan pengantarnya tidur.

Continue reading “Ada Pak Kayam di Rumah Mbah”