Pada Sebuah Perjumpaan

Kelak di kemudian hari kita akan bertemu dalam situasi kikuk dan penuh rasa bersalah. Kita akan sama-sama gelagapan tentang sebuah perjumpaan. Kita akan bingung memulai pembicaraan dari mana, apakah aku yang memulai dengan pertanyaan konyol dengan kata tanya, “bagaimana?” atau langsung berceracau dengan kata tanya, “mengapa?” kita sama-sama ingin memulainya dengan baik-baik namun diselimuti kegamangan … Continue reading Pada Sebuah Perjumpaan

Platonik

Kalau saja aku diizinkan untuk mengikuti sebuah pelatihan, aku ingin ikut kursus bersitatap. Nampaknya, ini menjadi problem terbesarku yang baru kupahami sejak kita bertemu. Pada tiap pertemuan, banyak hal yang ingin kusampaikan, berbincang sampai mulut berbusa, sampai kedai tempat biasa kita bertemu memutar ulang lagu-lagu yang sudah kita dengar dari sejak kita datang, namun begitu … Continue reading Platonik

Berbicara Kelebihan

Saya selalu takjub ketika berbincang dengan seseorang yang bisa menceritakan perjalanan diri menyusun cita-citanya. Terlebih jika penjelasannya runut, dari sini, ingin ke situ, dari A, B, C, dan seterusnya. Saya membayangkan mudahnya rencana tersebut berjalan seolah tak ada hambatan selama ia merencanakan dan mewujudkannya. Ini bukan bentuk kedengkian, tapi memang saya selalu berpikir bagaimana caranya … Continue reading Berbicara Kelebihan

Kita Pernah Sama-Sama

Kita pernah sama-sama tidak bicara selama beberapa waktu. Kita percaya bahwa diam adalah cara terbaik meredam amarah. Meskipun sebelum benar-benar redam, kita harus melewati fase kelam: murung dan muram. Kita tahu itu sulit. Paling tidak dengan diam, kesempatan melakukan kesalahan hilang dan pertengkaran akan usai dengan sendirinya—meski tidak usai-usai amat. Lalu kita kembali pada situasi … Continue reading Kita Pernah Sama-Sama