Berakhir Awalan

Awalan Pada mulanya, saya tidak pernah percaya bahwa tahun tertentu bisa membawa petaka bagi tiap orang. “Kesialan adalah keniscayaan” yakin saya pada satu waktu. Ia tak peduli tahun anjing, ayam, babi, atau perkutut sekalipun. Kesialan atau kebahagiaan adalah bagian dari alur hidup manusia di kolong langit. Namun, sebagaimana keyakinan, ia dapat diperbarui setelah kita menemukan … Continue reading Berakhir Awalan

Kita Hanyalah Sepasang Lelucon Peradaban

Hal yang paling menyebalkan dari menunggu adalah mengetahui ketika waktunya akan atau telah tiba. Kita bisa keki, sebal, gundah, mengutuk berbagai hal, menanyakan hal yang tidak ada jawabnya: “kenapa yang begini selalu begitu?” Kita resah. Kita tahu bahwa pertanyaan itu tidak akan membawa kita kembali. Ia hanya sebagai katarsis yang tugasnya hanya membuang residu-residu emosi … Continue reading Kita Hanyalah Sepasang Lelucon Peradaban

Menemukan Toleransi dari Transportasi

Jika sesekali Anda berangkat ke kantor menggunakan transportasi publik: transjakarta, commuterline, atau bis antarkota, Anda akan berjejal dengan umat manusia di dalamnya. Tengoklah sejenak ke kiri maupun kanan, Anda akan temukan mereka sibuk dengan ponselnya masing – masing atau tertidur sepanjang jalan seolah tak menyangka semalam baru pulang, kini sudah berangkat lagi, atau orang di … Continue reading Menemukan Toleransi dari Transportasi

Pada Sebuah Perjumpaan

Kelak di kemudian hari kita akan bertemu dalam situasi kikuk dan penuh rasa bersalah. Kita akan sama-sama gelagapan tentang sebuah perjumpaan. Kita akan bingung memulai pembicaraan dari mana, apakah aku yang memulai dengan pertanyaan konyol dengan kata tanya, “bagaimana?” atau langsung berceracau dengan kata tanya, “mengapa?” kita sama-sama ingin memulainya dengan baik-baik namun diselimuti kegamangan … Continue reading Pada Sebuah Perjumpaan