Ketika Usia Telah di Pangkal Tenggorok

Di dalam sebuah kamar, ia berteriak memohon “Tuhan… Tuhan… bantulah mereka yang dalam tekanan” tangannya coba ditengadahkan. “Tuhan… Tuhan… tolonglah, bantu mereka.. Apakah doanya tak sampai?” ia nampak kesulitan tapi terus mencoba menaikkan tangannya. “Tuhan.. Tuhan… biar kubantu naik doa mereka” ia menyerah, sekarang tubuhnya ia gerakkan mencoba bersujud sambil memohon “Tuhan.. Tuhan.. mereka kesulitan, … Continue reading Ketika Usia Telah di Pangkal Tenggorok

Di Balik Pohon, Di Tepi Lapang

“rindu” aku menyalakan rokok yang sedari tadi dihimpit sela-sela jari. “tak akan lahir tanpa perpisahan. Jauh sebelumnya, kita dihadapkan dengan kenyataan yang sebetulnya biasa saja, perjumpaan” Ia kikuk, lantas menjerang air panas ke dalam cangkir yang telah berisikan kopi. Seperti ada sesuatu yang menyodok di pangkal tenggorok. Manusia kerap dipertemukan dengan keadaan dilematis antara menerima … Continue reading Di Balik Pohon, Di Tepi Lapang

Surat Imajiner: Peluru

Van, Izinkan aku memulai surat ini dengan kata maaf. Maaf jika surat ini secara tiba-tiba kutujukan padamu. Bukan tak beralasan, melainkan aku bingung harus ke mana lagi surat ini kutujukan. Awalnya, ingin kutujukan langsung kepada Presiden. Tapi, aku sangsi. Melihat surat-surat kamisan yang dikirim pun hanya bisa dititip ke pengawal istana. Selebihnya, tergantung dia, menyerahkan … Continue reading Surat Imajiner: Peluru