Ode Untuk Seorang Teman

Kalimatmu tidak teratur, tergagap di sela-sela pembicaraan, terkadang ada jeda cukup lama untuk mengambil nafas seolah hal yang terjadi teramat memukul hidupmu. Boleh jadi begitu sebab kau tak pernah terbesit sedikit pun membayangkannya, sekalipun sedang buang air. “itu hil yang mustahal” sesalmu kemudian. Tapi sayang kita bicara di dunia yang lebih sering bikin kepala kita … Continue reading Ode Untuk Seorang Teman

Sore Itu Tiga Tahun Lalu

Kau boleh saja mencari segala bentuk dalih yang menyatakan dirimu baik-baik saja, tidak ada satupun hal yang mengganggumu, atau menganggap keadaanmu nyaman saja. Tapi, kau tidak bisa mengelak dari rasa. Ia yang bisa mengubah tingkah lakumu seketika, mengubah persepsimu melihat sebuah keadaan bahwa kau bisa saja hanyut dalam apa yang kau benci pada awalnya. Kau, … Continue reading Sore Itu Tiga Tahun Lalu

Melihat Sulak, Sukab, dan Sapardi di Cikini

Sambil menaiki tangga stasiun Cikini, saya tersadar kalau mulai jarang mengisi blog. Awalnya saya menjadwalkan paling tidak sekali dalam seminggu bisa mengeluarkan tulisan. Entah mengapa tak satupun yang ada di kepala pantas untuk dibaca orang lain. saya gagal mengurasi bahan saya sendiri. Dalam menulis, seperti yang disebutkan A.S. Laksana, tidak perlu takut. Apalagi kalau kita … Continue reading Melihat Sulak, Sukab, dan Sapardi di Cikini

Cemburu

Konsekuensi logis dari mencintaimu adalah kekecewaan. Hati ini harus siap menahan sakitnya hulu parang atau harus menahan kepundan  lahar amarah yang telah menggumpal di pintu nadi. memang seharusnya aku harus sadar, kau tak bisa kumiliki secara utuh. Wajar kata orang, kalau kamu lahir di masa lampau, kecantikanmu bisa mengakibatkan perang baratayudha. Disukai, dicintai, banyak orang … Continue reading Cemburu