Ode Untuk Seorang Teman

Kalimatmu tidak teratur, tergagap di sela-sela pembicaraan, terkadang ada jeda cukup lama untuk mengambil nafas seolah hal yang terjadi teramat memukul hidupmu. Boleh jadi begitu sebab kau tak pernah terbesit sedikit pun membayangkannya, sekalipun sedang buang air. “itu hil yang mustahal” sesalmu kemudian. Tapi sayang kita bicara di dunia yang lebih sering bikin kepala kita pusing. Apakah kau pernah terbayang Banda Neira atau Payung Teduh bubar ketika albumnya baru saja keluar? Mungkin tak sempat. Tapi tetap terjadi.

Continue reading “Ode Untuk Seorang Teman”

Sore Itu Tiga Tahun Lalu

Sore Itu Tiga Tahun Lalu

Kau boleh saja mencari segala bentuk dalih yang menyatakan dirimu baik-baik saja, tidak ada satupun hal yang mengganggumu, atau menganggap keadaanmu nyaman saja. Tapi, kau tidak bisa mengelak dari rasa. Ia yang bisa mengubah tingkah lakumu seketika, mengubah persepsimu melihat sebuah keadaan bahwa kau bisa saja hanyut dalam apa yang kau benci pada awalnya. Kau, secara tidak langsung, akan tenggelam dalam suasana melankolis nan dramatis itu.

Kau mulai berpura-pura bahwa kau tidak mengetahui apa-apa. Padahal, tak ada satu jengkal pun yang kau lewati darinya. Jadwal keberangkatan kerja, model pakaiannya, wangi parfumnya, bahkan hal-hal sederhana lainnya, seperti selera humor atau kebiasaan buruknya. Lagi-lagi, kau tidak bisa berdalih dari apa yang sebetulnya kau perhatikan tapi kau menutupinya. Sampai pada satu waktu kau bertanya dalam hati, “mengapa saya melakukannya?”

Continue reading “Sore Itu Tiga Tahun Lalu”

Melihat Sulak, Sukab, dan Sapardi di Cikini

Melihat Sulak, Sukab, dan Sapardi di Cikini

Sambil menaiki tangga stasiun Cikini, saya tersadar kalau mulai jarang mengisi blog. Awalnya saya menjadwalkan paling tidak sekali dalam seminggu bisa mengeluarkan tulisan. Entah mengapa tak satupun yang ada di kepala pantas untuk dibaca orang lain. saya gagal mengurasi bahan saya sendiri.

Dalam menulis, seperti yang disebutkan A.S. Laksana, tidak perlu takut. Apalagi kalau kita menyiapkan tiga kata kunci yang bisa dikembangkan menjadi paragraf. Teruslah menulis, lanjutnya dalam buku Creative Writing. Sulak lantas menyontohkan tiga kata kunci: buku, kucing, dan nasib. Dari tiga kata kunci tersebut, ia menuliskan tiga paragraf berbeda dengan perspektif masing-masing. Sial, kenapa bisa semudah itu dia buat?

Continue reading “Melihat Sulak, Sukab, dan Sapardi di Cikini”

Cemburu

Konsekuensi logis dari mencintaimu adalah kekecewaan. Hati ini harus siap menahan sakitnya hulu parang atau harus menahan kepundan  lahar amarah yang telah menggumpal di pintu nadi. memang seharusnya aku harus sadar, kau tak bisa kumiliki secara utuh. Wajar kata orang, kalau kamu lahir di masa lampau, kecantikanmu bisa mengakibatkan perang baratayudha. Disukai, dicintai, banyak orang yang bersamaan membuatku jatuh pada titik nadir kehidupan dalam bulatan cakrawala.

Kecemburuan kadang membuat pikiran ini menjadi dungu. Seolah aku ingin menjadi sandal jepitmu yang kau injak tiap hari tak peduli akan seberapa kotor, menjadi aliran sungai yang selalu kau ambil sekadar membasuh wajahmu yang sudah kepalang mengkilap itu. Inderaku tak berfungsi semestinya,  pandanganku penuh belek, penciumanku tertutup upil-upil keparat, neuron dalam otakku berubah menjadi sumbu ledak, dan kepalaku adalah sebuah dinamit.

Pundakku kini takmudah lagi merasakan beratnya kepalamu, dadaku selama ini telanjang sebab tak ada lagi rambut yang jatuh lurus menutupi pusarku. Sekujur tubuhku hanya bersarung harap yang tak kuasa menahan dingin yang menggigit bulu roma. Terpaksa, kunyalakan api dalam tungku, beruntung masih ada sisa daun kelapa kering, juga cetakan fotomu yang sudah usang dalam dompetku. Seonggok daging ini akhirnya merasakan hangat walau harus meniadakan senyuman abadimu.

Penuh sudah perasaan ini dengan kedengkian. Tak ayal diri ini bukan sekadar sandal jepit atau aliran sungai. Kau tak butuh pledoi, aku bebaskan kau tanpa syarat. Biar diri ini bermuram durja, biar diri ini gelap mata, dan biar diri ini belajar dewasa dari cemburu buta.