Menjadi Nol Kembali

Menjadi Nol Kembali

Ada satu candaan khas dalam ceramah yang selalu saya ingat, “saya suka nih, awal puasa masjid penuh. Pasti di hari lain akan lebih maju..” buka sang khotib “lebih maju shafnya.” lanjutnya disusul tawa meringis jamaah. Pameo itu hampir sering saya dengar di hari pertama tarawih. Kemarin, saya dengar kembali candaan yang sama.

Tak selang beberapa lama, pameo lainnya muncul, “bu, bulan ramadan jangan lupa juga baca quran, jangan baca whatsapp aja” koor tawa ibu-ibu di barisan belakang pun terdengar. Ceramah-ceramah yang keluar di hari pertama tarawih cenderung sederhana, tapi pesannya begitu kuat. Pembawaannya jenaka, komunikasinya walaupun satu arah tapi tidak membosankan. Melalui pameo itu, khatib berusaha mengingatkan melalui narasi yang sebagian besar bagian dari realita kita.

Ceramah di awal ramadan kemarin dipenuhi dengan candaan. Ringan tapi tidak menghilangkan substansi. Saya amat menikmatinya. Setelah beberapa waktu terakhir ceramah hampir kompak berisi tentang ujaran kebencian tentang pilihan politik, mendengar pameo dalam ceramah seperti menemukan uang di sela kantong celana. Sedikit tapi melegakan. Dua pameo tersebut merujuk pada satu kebiasaan yang terjadi di masyarakat. Semua keluar sesuai porsinya. Tidak bernada menggurui, hanya mengingatkan melalui realita di bulan ramadan.

Sepanjang ceramah tidak ada pembahasan yang menjurus pada topik tertentu. Semua masih dalam koridor dakwah, yaitu mengingatkan. Tidak ada bahasan tentang politik atau satu peristiwa besar lainnya. Dibumbui dengan candaan renyah khas ustadz pinggir kota, tarawih di hari pertama dipenuhi tawa.

Continue reading “Menjadi Nol Kembali”

Air Terjun Versi Ibu

Ada pemandangan unik tiap saya tiba di rumah. Kini ibu sibuk dengan ponselnya. Sudah beberapa kali saya tiba di rumah, ia sedang memandangi ponsel dengan kacamatanya yang mudah melorot dan meninggalkan lap pelnya di lantai begitu saja. Setelah saya ketahui, ibu hanya membuka aplikasi pesan singkat dan berbincang dengan teman-temannya di grup Whatsapp. Saya kadang meledek dan beliau menyambutnya dengan menaruh ponsel lalu melanjutkan mengepel.

Dulu setiap pulang ke rumah, ibu lebih dekat dengan sapu dan lap pelnya. Belum saya memasuki rumah, dari dalam ibu sudah teriak, “lewat pintu samping, lagi di pel”. Ibu dan alat bersih-bersihnya sebagai bagian yang tak bisa dipisahkan. Tidak bisa ia melihat anaknya duduk manis di kursi sambil cekikikan memandang ponselnya. Jika ketahuan, pasti ia meminta untuk membersihkan piring kotor atau melakukan kegiatan yang menjauhkan anaknya dari ponsel. “emang ada apasih di hapenya?” katanya suatu saat. Pertanyaan itu kini berbalik. Saya malah yang beberapa kali menegur dengan kalimat yang sama ketika beliau menegur saya dulu. Saya tidak kaget dengan perubahan yang terjadi pada ibu. Saya melihatnya sebagai kebiasaan yang wajar.

Dengan ponselnya, kini ia dengan mudah mendapatkan informasi yang bertebaran. Kadang ia menanyakan ke saya untuk memastikan kebenaran informasi yang diterimanya. Kadang ia bisa asik sendiri sampai ketiduran. Kedekatan dengan ponselnya pun juga tak mematikan komunikasi dengan anak-anaknya.  Di momen itu, saya melihat ibu dan ponselnya seperti ruang kecil dalam rutinitasnya. Ruang tersebut adalah bagian dari kehidupan ibu yang tak terpisahkan. Dan, setiap orang memiliki ruang tersebut.

Kawan saya, Dodi, sempat mencuitkan sesuatu, ia menanyakan kenapa orang-orang Jakarta mengeluhkan tentang kemacetan, polusi, dan kesemrawutan tapi masih betah tinggal di Jakarta? Saya jawab singkat, mungkin karena kekacauan yang terorganisir. Memang agak ironis, kita mengeluhkan sesuatu di tempat kita biasa mengerjakan sesuatu. Kita memilih “betah” dalam posisi tersebut. Dan kebetahan itu sengaja kita jaga.

Hal yang ditanyakan Dodi sejalan dengan yang Seno tuliskan tentang air terjun. Saya tidak begitu ingat persisnya, tapi kurang lebih menceritakan tentang penciptaan diorama air terjun di dalam rumah. “manusia” kata Seno “entah untuk maksud apa membawa air terjun ke dalam gua garbanya”. Tentu yang disebut air terjun adalah miniatur sederhana yang letaknya biasanya di dalam rumah sehingga penghuni rumah sewaktu-waktu dapat mendengarkan gemericik air ketika bangun tidur atau buang air. “Apakah manusia Jakarta mencoba memecahkan masalah ruang?” sindir Seno

Sebagai pekerja suburban, saya seringkali mengeluhkan tentang ibukota seperti yang disebutkan Dodi. Di sisi lain, saya juga mengakali hal tersebut dengan menciptakan “air terjun” versi saya sendiri sebagai upaya saya untuk mengorganisir kekacauan. Iya, saya mencoba memecahkan “masalah ruang” itu. saya menganggap kerumitan hanya dapat dibayar dengan kerumitan lainnya. Saya mengambil ruang yang berada di luar rutinitas saya. Setidaknya begitu yang saya lakukan untuk berdamai dengan keadaan.

Pikiran-pikiran itu mendadak hilang setibanya di rumah. Ruang-ruang dalam rutinitas ibu seolah mematahkan pertanyaan Dodi dan sindiran Seno. Ia dengan ponselnya, sekali lagi adalah bagian dari rutinitasnya, dan tak mengubah atau menjadikan dirinya sosok yang baru. Beliau tetaplah orang yang bangun pagi buta, masak untuk bekal anaknya, berangkat kerja, kemudian pulang masih disibukkan dengan beberes rumah.  Rutinitas itu ibu jalani dengan biasa saja dan tak bisa saya bayangkan jika menjadi dirinya.

Ibu tak pernah terpikir untuk meninggalkan ibukota setelah ia merasakan kemacetan berjam-jam di jalan, berdesak-desakkan di kereta, atau memboyong air terjun ke dalam rumah untuk menenangkan pikiran. Ibu hanya menjalani apa yang menjadi kewajibannya. Pada titik itu, saya menyadari ibu tak pernah berupaya untuk berdamai dengan keadaan, boleh jadi ia memandang keadaan yang terjadi sebagai hal yang lumrah sehingga tak perlu didamaikan. Ibu dan ponselnya adalah ruang sederhananya untuk mengorganisir kekacauan. Ia tak direpotkan menanggap ruang lain di luar rutinitasnya.

Di saat saya menuliskan ini, ibu memanggil saya, ia meminta diajarkan caranya mengirimkan dokumen ke temannya. Saya tahu permintaannya tak berhenti di situ. ponselnya sedikit dijauhkan dari matanya, kacamatanya dinaikkan ke atas kepala, lalu memijit layar sentuh dengan satu jari. Saya mesem-mesem melihatnya.

Mengamati keseharian yang dilakukan oleh ibu adalah pengalaman yang saya sukai di rumah. Saya seperti kembali ke garis awal. Menyetel ulang tentang imajinasi sebuah ruang. Bahwa ia bukanlah sesuatu yang terdapat di luar rutinitas, ia adalah bagian dari molekul-molekul keseharian kita yang mungkin belum kita sadari. Saat ini, mustahil bagi saya menjalani rutinitas seperti ibu, tapi setidaknya saya bisa memulainya dengan melihat sesuatu dengan biasa saja.

Jangan Diam, Presiden

Jangan Diam, Presiden

oleh: Rivanlee Anandar & Puri Kencana Putri*

Wacana penyelesaian kasus pelanggaran HAM berat masa lalu kian santer di telinga. Terlebih lagi, setelah Wiranto (Menkopolhukam) menyampaikan kasus pelanggaran HAM masa lalu yang masih menjadi beban negara akan diselesaikan dengan cara nonyudisial, melalui Dewan Kerukunan Nasional (DKN). Ada dua kejanggalan dari wacana tersebut, pertama, penyelesaian kasus pelanggaran HAM berat masa lalu dengan jalan pintas musyawarah mufakat. Langkah ini dipandang sejumlah pegiat HAM tidak lebih dari sekadar agenda cuci tangan negara untuk melanggengkan ketiadaan hukum. Atau yang sering disebut impunitas. Kedua, langkah non-yudisial yang dipelopori oleh salah satu aktor yang diduga kuat bertanggung jawab atas rangkaian peristiwa pelanggaran HAM berat masa lalu tersebut berpotensi melemahkan makna penegakan hukum di Indonesia.

Adalah penting untuk mengingat siapa Wiranto dalam sejarah impunitas Indonesia. Nama Wiranto disebutkan di dalam rangkaian laporan Komnas HAM; seperti peristiwa penyerangan 27 Juli, Tragedi Trisakti, Mei 1998, Semanggi I dan II, Penculikan dan penghilangan aktivis prodemokrasi 1997/1998, Biak Berdarah, dan juga tidak kalah penting adalah ketika namanya disebut-sebut di dalam sebuah laporan khusus setebal 92 halaman yang dikeluarkan oleh Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di bawah mandate Serious Crimes Unit, yang menyatakan bahwa, Wiranto gagal untuk mempertanggungjawabkan posisi sebagai komandan tertinggi dari semua kekuatan tentara dan polisi di Timor Leste untuk mencegah terjadinya kejahatan terhadap kemanusiaan dan gagalnya Wiranto dalam menghukum para pelaku di dalam institusi TNI. PBB bahkan telah mengusulkan untuk menggelar sebuah peradilan internasional untuk meminta pertanggungjawaban pidana aktor pelanggaran HAM serius di Timor Leste, khususnya Wiranto.

Presiden Abdurrahman Wahid yang saat itu menyatakan bahwa reformasi sistem pemidanaan Indonesia melalui Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM bisa menghadang aktor pelaku pelanggaran HAM; sehingga tidak perlu membuka jalur akuntabilitas internasional. Namun nyatanya ada banyak upaya pelemahan sistem penegakan hukum, khususnya ketika UU ini digagalkan untuk mempidana 18 orang yang diputus bersalah untuk kasus Tanjung Priok, Timor Leste dan Abepura; di mana ke-delapan belas orang tersebut dibebaskan di tingkat banding (KontraS, ICTJ. 2012 hal. 4).

Pembentukan Dewan Kerukunan Nasional (DKN) tentu menjadi tanda tanya besar bagi korban. Terlebih lagi, pada kasus-kasus yang telah menempuh upaya hukum. Keberadaan Dewan Kerukunan Nasional malah menutup jalur-jalur hukum yang telah dibangun dan belum digunakan secara maksimal selama ini.

Continue reading “Jangan Diam, Presiden”

Deugalih di Antara Kolonial dan Milenial

Deugalih di Antara Kolonial dan Milenial

Sekitar dua minggu lalu, saya berencana menemui Galih di kedai makanan di bawah Omuniuum. Pertemuan itu sebetulnya tidak sengaja. Secara kebetulan, kami berada di satu kota yang sama, Bandung. Alasan lain, saya hendak mengintip proses pembuatan album barunya.

Dari arah Dago, saya dan Eka melaju ke Cieumbeuleuit dengan motor sewaan yang suara mesinnya terdengar tak siap dikendarakan jarak jauh. Kami melaju dengan kecepatan rendah sembari khawatir hujan akan turun atau motor yang tiba-tiba tak bernafas. Dengan penuh kehati-hatian, tiba juga kami di emperan toko depan Universitas Parahyangan itu.

Dari kejauhan, samar-samar, saya melihat seorang pria dengan celana jeans belel, sendal gunung, dan kaos kutang dengan tulang pundaknya yang kentara seperti kebingungan mencari seperti mencari sesuatu. Setelannya seolah menantang alam yang sedang tak waras kala itu. ia menghampiri saya, “eh, Van, gimana kabar? aing nyari tukang cd euy. Di mana nyak?” sambut Galih dengan logat sundanya. Tentu tak saya jawab di mana lokasi tukang CD.

Ia menyuruh kami duduk. Beberapa botol bir menganggur di atas meja. Perbincangan dimulai basa-basi, tentang tujuan kami selanjutnya, di mana kami menginap, dan remeh temeh lainnya. Galih kemudian bercerita tentang keperluannya di Bandung dan proses penggarapan album barunya. Tak lama ia bercerita, seorang wanita memberhentikan perbincangan kami.

Continue reading “Deugalih di Antara Kolonial dan Milenial”