Kabar Dari Bukit

Aku sengaja mendaki bukit demi mendekatkan diri dengan tiang pemancar. sebab hingga petang pesanmu belum juga tiba. Aku pikir ada gangguan sinyal di rumah. dua hari setelah bertemu, kamu tanpa kabar. Baik memberi kabar, berpura-pura salah kirim, maupun mengirimkan doa dari pesan berantai grup keluarga. Setidaknya melihat namamu ada dalam antrean notifikasi amat melegakan. Setibanya … Continue reading Kabar Dari Bukit

Yang Terekam di Atas Bantal

Aku terbangun menyadari air liurku telah membentuk pulau di atas bantal. Pipiku basah, rambutku tidak beraturan, selimut juga tidak lagi melingkari kakiku. Belakangan, aku suka sekali bangun siang atau tidur lebih panjang daripada biasanya. Ada kesengajaan yang aku lakukan agar aku merasa lelah, bersepeda dari Cipete ke Cibubur, melakukan perjalanan kaki sejauh sepuluh kilometer, atau … Continue reading Yang Terekam di Atas Bantal

Pada Kesempatan yang Lain

Kelak di kemudian hari kita akan bertemu dalam situasi kikuk dan mungkin terasa asing. Kita akan sama-sama gelagapan tentang sebuah perjumpaan. Kita akan bingung memulai pembicaraan dari mana, apakah aku yang memulai dengan pertanyaan konyol dengan kata tanya, “bagaimana?” atau langsung berceracau dengan kata tanya, “mengapa?” kita sama-sama ingin memulainya dengan baik-baik namun diselimuti kegamangan … Continue reading Pada Kesempatan yang Lain

Yang Kelak Menguning dan Terlupakan

Hal yang paling menyebalkan dari menunggu adalah mengetahui ketika waktunya akan atau telah tiba. Kita bisa keki, sebal, gundah, mengutuk berbagai hal, menanyakan hal yang tidak ada jawabnya: “kenapa yang begini selalu begitu?” Kita resah. Kita tahu bahwa pertanyaan itu tidak akan membawa kita kembali. Ia hanya sebagai katarsis yang tugasnya hanya membuang residu-residu emosi … Continue reading Yang Kelak Menguning dan Terlupakan