Nella Kharisma dan Sejarah Kekerasan Kolektif

Nella Kharisma dan Sejarah Kekerasan Kolektif

Nella Kharisma, setidaknya, tumbuh di tengah situasi dangdut yang tengah berkecamuk. Ia adalah oposisi biner yang muncul tatkala perdebatan Ayu Ting-Ting dan Via Vallen yang pada akhir tahun 2017 sedang panas akibat MUA (Make Up Artist) Ayu Ting-Ting menuduh Via Vallen sebagai gundik. Perdebatan dilanjutkan oleh serdadu kedua penyanyi tersebut di kolom komentar Instagram. Sementara, Nella Kharisma ibarat poacher dalam sepakbola yang membuka ruang untuk dirinya sendiri, penuh kecepatan, pergerakan tanpa bola, dan memiliki kemampuan menggiring yang bagus membawanya menjadi penyanyi yang paling banyak ditelusuri di mesin pencarian, Google.

Melalui lagu bertemakan sihir tradisional, Jaran Goyang, Nella Kharisma meneluh pengguna internet untuk melongok video klipnya di kanal Youtube yang pada Februari 2018 telah ditonton 140 juta kali. Dengan memadukan genre dangdut, reggae, dan hip hop, ia menghapus stigma dangdut candoleng-doleng yang sering dikaitkan dengan pornoaksi karena menunjukkan lekuk tubuh tak senonoh dan goyangan beragam rupa. Jaran Goyang menyentuh sisi kehidupan sehari-hari masyarakat. Meski bukan single pertama Nella dalam debutnya di ranah dangdut, lagu tersebut menjadi sentilan bagi kaum pria—yang sebetulnya—gagal meraih hati wanita.

Continue reading “Nella Kharisma dan Sejarah Kekerasan Kolektif”

Di Barisan Belakang

Beberapa waktu lalu, ibu mengirim pesan ke saya, mengajak saya pulang bareng naik kereta. Hal yang amat jarang dilakukannya. Biasanya ia menggunakan bis dinas yang mengantarnya berangkat dan pulang kerja. Di dalam kereta ia cerita bahwa baru saja selesai kumpul dengan teman-teman sekolahnya dulu.  “tadi ibu ndak mau ikut. Tapi, dipaksa. Kata temannya ‘mumpung aku lagi di Jakarta’” tungkasnya pada saya. “mana teman satu lagi datangnya malam lagi. Jadi harus nunggu deh” sambungnya lagi. Sepanjang perjalanan saya cekikikan mendengar ibu cerita tentang reuni kecilnya itu.

Ibu saya tipikal pekerja tenggo. Jika ada pekerjaan yang belum dituntaskan, ia memilih pulang dan melanjutkannya di rumah, kecuali jika ada hal-hal mendesak yang membuatnya bertahan di kantor lebih lama. Ia hampir tidak pernah sama sekali kumpul dengan kerabat kerjanya setelah pulang kerja, apalagi singgah di tempat tertentu untuk ngopi-ngopi lucu sambil duduk cantik. Beban-beban ala kelas menengah seputar stres karena pekerjaan, tidak pernah ia tuangkan ke dalam aktivitas lain. Yang ia pegang selama ini, anak-anaknya menunggu di rumah. Sesekali ia bawa makanan rapat dari kantornya untuk anak-anaknya, termasuk saya. Tapi, mendengar ibu bercerita tentang reuni kecilnya, saya syok sebab beliau keluar dari rutinitasnya.

Continue reading “Di Barisan Belakang”

Yang Berbincang di Whatsapp Grup

Ada dua grup whatsapp yang belakangan kejar-kejaran menduduki posisi teratas di ponsel saya, pertama dari keluarga ibu saya, kedua dari keluarga bapak saya. Nama tiap grup keluarga tersebut diambil dari nama kakek saya. Isinya sekitar 10-20 orang. Masing-masing berisikan anak, menantu, dan cucu dari kakek-nenek saya. Dalam sehari ada puluhan pesan dari grup keluarga tersebut—kadang ratusan kalau mereka sedang khilaf—yang tidak saya buka. Macam-macam yang dibicarakan, info banjir, berita hoax, hingga lelucon khas grup keluarga yang lebih bikin kesal ketimbang lucu. Haibatnya, dari puluhan orang tersebut, hanya 1-4 orang yang sebetulnya aktif mengirim pesan ataupun gambar.

Continue reading “Yang Berbincang di Whatsapp Grup”

Ode Untuk Seorang Teman

Kalimatmu tidak teratur, tergagap di sela-sela pembicaraan, terkadang ada jeda cukup lama untuk mengambil nafas seolah hal yang terjadi teramat memukul hidupmu. Boleh jadi begitu sebab kau tak pernah terbesit sedikit pun membayangkannya, sekalipun sedang buang air. “itu hil yang mustahal” sesalmu kemudian. Tapi sayang kita bicara di dunia yang lebih sering bikin kepala kita pusing. Apakah kau pernah terbayang Banda Neira atau Payung Teduh bubar ketika albumnya baru saja keluar? Mungkin tak sempat. Tapi tetap terjadi.

Continue reading “Ode Untuk Seorang Teman”