Ada Pak Kayam di Rumah Mbah

Ada Pak Kayam di Rumah Mbah

“saya mau coba, mbah” pinta saya menunjuk ke arah barang lonjong dari tembaga. Ia mencolek isinya dan mengarahkannya ke saya. Telunjuk saya mengambilnya dan mengoleskannya ke lidah. Belum sepenuhnya saya coba, saya membuangnya. Mbah putri tertawa sambil menunjukkan gusi yang tak bergigi lagi.

Selepas isya, ia sudah dengan posisi biasanya. Duduk di samping tv sambil menyiapkan peralatan nyirih­­ miliknya. Di depannya, duduk saya menonton acara televisi yang diulang dari tahun ke tahun tiap lebaran. “tok.. tok… tok..” suara penumbuk yang beradu dengan tembaga mengganggu saya yang sedang menonton. “mbah, pelan-pelan” tegur saya. Matanya mengarah lurus ke arah televisi, ia tetap melanjutkan numbuknya dengan suka cita. Saya diabaikannya. Entah ia tidak mendengarnya, entah ia sengaja melakukannya. Tidak lama, Saya dibisiki pakde, “mbah, mau nonton tinju itu”. saya mengangguk pasrah.

Hampir tiap saya mudik, saya berebut tv dengannya. Saya memilih tontonan apa saja, umumnya humor. Sedang, mbah hanya mau menonton tinju. Kalau hajatnya belum terpenuhi, ia akan rungsing dan menggerutu saat saya menonton. Ia bukan penonton fanatik tinju yang tiap jap atau uppercut­-nya tepat mengenai lawan lalu berteriak, ia hanya menikmati pertandingan tinju sambil menumbuk sirih dan pengantarnya tidur.

Continue reading “Ada Pak Kayam di Rumah Mbah”

Naik KRL dan 5 Lagu Hip Lainnya

Naik KRL dan 5 Lagu Hip Lainnya

Ada satu hal yang saya ingat dari Noel Gallagher, selain lagu-lagu magis yang diciptakannya, yaitu ia masih menggunakan London Tube. London Tube sebagaimana KRL Jabodetabek, tentu dengan sedikit ketimpangan, adalah transportasi hip yang bisa mengantarmu ke satu tempat dalam waktu singkat dengan segala konsekuensinya. Di artikel yang sempat saya baca, terlihat Noel dengan jaket kulit andalannya duduk memegang ponselnya selayaknya pekerja komuter. Mungkin yang membedakannya, setelah turun dari subway, Noel diajak foto oleh penggemarnya. Sementara, pekerja komuter harus berhadapan dengan puluhan ojek yang sedikit memaksa menawarkan jasanya.

Saya takjub dengan Noel dan mereka yang masih setia berkelindan dengan transportasi publik. Menggunakan transportasi publik seperti kemewahan di tengah arus teknologi yang semakin memudahkan orang bergerak—sebetulnya membuat malas—, dalam hal ini penyedia jasa transportasi online. Butuh waktu yang panjang menjadikan KRL menjadi seperti London Tube dengan fasilitas yang mumpuni. Apalagi, di tengah kondisi KRL yang tidak selalu bisa diharapkan bekerja maksimal. Mereka kadang harus berhadapan dengan pencopet, kelompok yang berisik, sampai eksibisionis. Belum kalau mereka harus menerima jadwal kereta yang amburadul atau gangguan teknis. Di luar itu, keberadaan KRL bisa disebut sebagai moda transportasi efektif yang menyambungkan sudut-sudut kota se-Jabodetabek dengan harapan para penggunanya tiba lebih cepat ke tujuan.

Continue reading “Naik KRL dan 5 Lagu Hip Lainnya”

Panggilan Singkat

Ada dua cara yang bisa dilakukan seseorang untuk berdamai dengan memori, memangkas jarak atau membiarkan jarak itu tetap ada. saya cenderung memilih yang pertama. alasannya sederhana, saya tak mau terlarut dalam glorifikasi masa lalu. mungkin sedikit prinsipil, tapi nyatanya saya seringkali kalah. Beberapa kali ketika saya memikirkan kejadian di masa lampau, saya lebih sering tenggelam daripada menjadikannya pelajaran.

Belakangan, saya mengundang momen-momen masa silam ke kehidupan sekarang. Kebiasaan-kebiasaan di masa kuliah saya sengaja hadirkan, menyetel musik dengan volume yang besar, buku yang ditaruh berserakan, jaket dan celana jeans yang asal digantungkan, dan beberapa ketidakteraturan lainnya. saya tak menghindar bahwa saya sedang “kalah”. saya meyakini hal-hal yang terjadi di masa lampau kemungkinan besar tak akan hadir—minimal kehadirannya tak begitu bernilai—ketika kita sedang menikmati keadaan sekarang. Memori itu muncul. Saya tidak menghindarinya. Saya mencoba memangkas jaraknya.

Setahun setelah saya resmi meninggalkan Jatinangor dan kehidupannya, masih saja menempel sisa-sisa kebiasaan yang saya lakukan di kamar kos ke rumah. Awalnya saya memaklumi sebagai masa peralihan, tapi lama kelamaan kebiasaan ini malah membuat saya tertekan. Tepat ketika saya mengingat tentang masa kuliah, besoknya saya kumpul dengan teman kos saya dulu. Kami pun berbincang selayaknya masyarakat urban, mengeluhkan kondisi sekarang dan merindukan masa perkuliahan. Barangkali, hal-hal seperti ini yang menjadi justifikasi pekerja ibukota untuk menghibur dirinya sendiri.

Continue reading “Panggilan Singkat”

Menjadi Nol Kembali

Menjadi Nol Kembali

Ada satu candaan khas dalam ceramah yang selalu saya ingat, “saya suka nih, awal puasa masjid penuh. Pasti di hari lain akan lebih maju..” buka sang khotib “lebih maju shafnya.” lanjutnya disusul tawa meringis jamaah. Pameo itu hampir sering saya dengar di hari pertama tarawih. Kemarin, saya dengar kembali candaan yang sama.

Tak selang beberapa lama, pameo lainnya muncul, “bu, bulan ramadan jangan lupa juga baca quran, jangan baca whatsapp aja” koor tawa ibu-ibu di barisan belakang pun terdengar. Ceramah-ceramah yang keluar di hari pertama tarawih cenderung sederhana, tapi pesannya begitu kuat. Pembawaannya jenaka, komunikasinya walaupun satu arah tapi tidak membosankan. Melalui pameo itu, khatib berusaha mengingatkan melalui narasi yang sebagian besar bagian dari realita kita.

Ceramah di awal ramadan kemarin dipenuhi dengan candaan. Ringan tapi tidak menghilangkan substansi. Saya amat menikmatinya. Setelah beberapa waktu terakhir ceramah hampir kompak berisi tentang ujaran kebencian tentang pilihan politik, mendengar pameo dalam ceramah seperti menemukan uang di sela kantong celana. Sedikit tapi melegakan. Dua pameo tersebut merujuk pada satu kebiasaan yang terjadi di masyarakat. Semua keluar sesuai porsinya. Tidak bernada menggurui, hanya mengingatkan melalui realita di bulan ramadan.

Sepanjang ceramah tidak ada pembahasan yang menjurus pada topik tertentu. Semua masih dalam koridor dakwah, yaitu mengingatkan. Tidak ada bahasan tentang politik atau satu peristiwa besar lainnya. Dibumbui dengan candaan renyah khas ustadz pinggir kota, tarawih di hari pertama dipenuhi tawa.

Continue reading “Menjadi Nol Kembali”