Yang Berbincang di Whatsapp Grup

Ada dua grup whatsapp yang belakangan kejar-kejaran menduduki posisi teratas di ponsel saya, pertama dari keluarga ibu saya, kedua dari keluarga bapak saya. Nama tiap grup keluarga tersebut diambil dari nama kakek saya. Isinya sekitar 10-20 orang. Masing-masing berisikan anak, menantu, dan cucu dari kakek-nenek saya. Dalam sehari ada puluhan pesan dari grup keluarga tersebut—kadang ratusan kalau mereka sedang khilaf—yang tidak saya buka. Macam-macam yang dibicarakan, info banjir, berita hoax, hingga lelucon khas grup keluarga yang lebih bikin kesal ketimbang lucu. Haibatnya, dari puluhan orang tersebut, hanya 1-4 orang yang sebetulnya aktif mengirim pesan ataupun gambar.

Continue reading “Yang Berbincang di Whatsapp Grup”

Ode Untuk Seorang Teman

Kalimatmu tidak teratur, tergagap di sela-sela pembicaraan, terkadang ada jeda cukup lama untuk mengambil nafas seolah hal yang terjadi teramat memukul hidupmu. Boleh jadi begitu sebab kau tak pernah terbesit sedikit pun membayangkannya, sekalipun sedang buang air. “itu hil yang mustahal” sesalmu kemudian. Tapi sayang kita bicara di dunia yang lebih sering bikin kepala kita pusing. Apakah kau pernah terbayang Banda Neira atau Payung Teduh bubar ketika albumnya baru saja keluar? Mungkin tak sempat. Tapi tetap terjadi.

Continue reading “Ode Untuk Seorang Teman”

Di Antara Pengunjung Pameran

Di Antara Pengunjung Pameran

Pria itu mengepalkan kedua tangannya, kemudian mengambil ancang-ancang memukul. Di depannya, menggantung karung tinju yang digantung di rangka baja. Beberapa detik kemudian, pukulannya mendarat di bungkusan hitam tersebut. Tidak ada satu menit, dipeluknya karung tinju tersebut sambil tertawa kelelahan. Rekannya di samping menyahut, “ini pameran atau tempat latihan Chris John?” saya tertawa kecil sambil melipir ke instalasi seni lainnya.

Kejadian itu saya temui di ruang performans, Aliansyah Chaniago, salah satu seniman yang berpameran di helatan seni dua tahunan, Jakarta Biennale 2017, di Gudang Sarinah. Sekitar 50-an seniman memamerkan karyanya dalam menginterpretasi “Jiwa” yang diangkat sebagai tema pameran ini. Bersama tiga orang rekan, saya mengitari ruang pameran selama satu jam lebih untuk melihat satu per satu karya yang dipamerkan.

Sepanjang melihat karya, teman-teman saya lebih sering bertanya ke saya tentang makna dari sebuah karya. Sementara, saya sendiri lebih banyak bingung ketimbang paham. Pasalnya, setiap mengunjungi pameran, saya juga tidak berupaya untuk mencari maknanya. Di pameran, ada yang bikin menarik, yaitu mengamati pola pengunjung pameran.

Continue reading “Di Antara Pengunjung Pameran”

Kepada Puan: Meledek Nasib

Puan, aku hendak mengeluh tentang kemalasanku belakangan ini. Hampir sebagian besar kebiasaanku dulu, kini enggan kulakukan. Entah apa yang melatarbelakanginya, entah bagaimana aku menanggulanginya. Buku-buku yang kubeli butuh waktu sebulan untuk kuselesaikan. Minat baca seperti berkurang, begitupun minat menulis. Musik-musik yang kudengar hanya sebagai hiburan sesaat, formalitas, seperti bapak-bapak yang membiarkan televisinya menyala ketika ia hendak tidur. Namun, bukan berarti aku tidak mengerjakan apa-apa. Beberapa pekerjaanku selesai sebelum waktunya, meski beberapa sengaja kutunda. Pembelaanku sementara ini hanyalah kemalasan musiman. Mungkin bisa jadi salah, bisa jadi benar. Tapi tidak ada salahnya bukan membela diri ketika kita merasa tertekan? Iya, iya, asal tidak berlebihan aku selalu ingat petuahmu.

Puan, barangkali kita perlu berjumpa lagi barang tiga puluh menit saja. Perkara aku akan habiskan dengan menatapmu saja atau kita berbincang sampai mulut berbusa itu urusan nanti. Kita bisa buka perjumpaan itu dengan saling meledek tubuhmu yang membesar atau kulitku yang takkunjung memutih. Tiga puluh menit memang tidaklah cukup, tapi kurasa waktu yang baik untuk memulai. Bagaimana? kau setuju?

Continue reading “Kepada Puan: Meledek Nasib”