Naik KRL dan 5 Lagu Hip Lainnya

Naik KRL dan 5 Lagu Hip Lainnya

Ada satu hal yang saya ingat dari Noel Gallagher, selain lagu-lagu magis yang diciptakannya, yaitu ia masih menggunakan London Tube. London Tube sebagaimana KRL Jabodetabek, tentu dengan sedikit ketimpangan, adalah transportasi hip yang bisa mengantarmu ke satu tempat dalam waktu singkat dengan segala konsekuensinya. Di artikel yang sempat saya baca, terlihat Noel dengan jaket kulit andalannya duduk memegang ponselnya selayaknya pekerja komuter. Mungkin yang membedakannya, setelah turun dari subway, Noel diajak foto oleh penggemarnya. Sementara, pekerja komuter harus berhadapan dengan puluhan ojek yang sedikit memaksa menawarkan jasanya.

Saya takjub dengan Noel dan mereka yang masih setia berkelindan dengan transportasi publik. Menggunakan transportasi publik seperti kemewahan di tengah arus teknologi yang semakin memudahkan orang bergerak—sebetulnya membuat malas—, dalam hal ini penyedia jasa transportasi online. Butuh waktu yang panjang menjadikan KRL menjadi seperti London Tube dengan fasilitas yang mumpuni. Apalagi, di tengah kondisi KRL yang tidak selalu bisa diharapkan bekerja maksimal. Mereka kadang harus berhadapan dengan pencopet, kelompok yang berisik, sampai eksibisionis. Belum kalau mereka harus menerima jadwal kereta yang amburadul atau gangguan teknis. Di luar itu, keberadaan KRL bisa disebut sebagai moda transportasi efektif yang menyambungkan sudut-sudut kota se-Jabodetabek dengan harapan para penggunanya tiba lebih cepat ke tujuan.

Continue reading “Naik KRL dan 5 Lagu Hip Lainnya”

Advertisements

Panggilan Singkat

Ada dua cara yang bisa dilakukan seseorang untuk berdamai dengan memori, memangkas jarak atau membiarkan jarak itu tetap ada. saya cenderung memilih yang pertama. alasannya sederhana, saya tak mau terlarut dalam glorifikasi masa lalu. mungkin sedikit prinsipil, tapi nyatanya saya seringkali kalah. Beberapa kali ketika saya memikirkan kejadian di masa lampau, saya lebih sering tenggelam daripada menjadikannya pelajaran.

Belakangan, saya mengundang momen-momen masa silam ke kehidupan sekarang. Kebiasaan-kebiasaan di masa kuliah saya sengaja hadirkan, menyetel musik dengan volume yang besar, buku yang ditaruh berserakan, jaket dan celana jeans yang asal digantungkan, dan beberapa ketidakteraturan lainnya. saya tak menghindar bahwa saya sedang “kalah”. saya meyakini hal-hal yang terjadi di masa lampau kemungkinan besar tak akan hadir—minimal kehadirannya tak begitu bernilai—ketika kita sedang menikmati keadaan sekarang. Memori itu muncul. Saya tidak menghindarinya. Saya mencoba memangkas jaraknya.

Setahun setelah saya resmi meninggalkan Jatinangor dan kehidupannya, masih saja menempel sisa-sisa kebiasaan yang saya lakukan di kamar kos ke rumah. Awalnya saya memaklumi sebagai masa peralihan, tapi lama kelamaan kebiasaan ini malah membuat saya tertekan. Tepat ketika saya mengingat tentang masa kuliah, besoknya saya kumpul dengan teman kos saya dulu. Kami pun berbincang selayaknya masyarakat urban, mengeluhkan kondisi sekarang dan merindukan masa perkuliahan. Barangkali, hal-hal seperti ini yang menjadi justifikasi pekerja ibukota untuk menghibur dirinya sendiri.

Continue reading “Panggilan Singkat”

Menjadi Nol Kembali

Menjadi Nol Kembali

Ada satu candaan khas dalam ceramah yang selalu saya ingat, “saya suka nih, awal puasa masjid penuh. Pasti di hari lain akan lebih maju..” buka sang khotib “lebih maju shafnya.” lanjutnya disusul tawa meringis jamaah. Pameo itu hampir sering saya dengar di hari pertama tarawih. Kemarin, saya dengar kembali candaan yang sama.

Tak selang beberapa lama, pameo lainnya muncul, “bu, bulan ramadan jangan lupa juga baca quran, jangan baca whatsapp aja” koor tawa ibu-ibu di barisan belakang pun terdengar. Ceramah-ceramah yang keluar di hari pertama tarawih cenderung sederhana, tapi pesannya begitu kuat. Pembawaannya jenaka, komunikasinya walaupun satu arah tapi tidak membosankan. Melalui pameo itu, khatib berusaha mengingatkan melalui narasi yang sebagian besar bagian dari realita kita.

Ceramah di awal ramadan kemarin dipenuhi dengan candaan. Ringan tapi tidak menghilangkan substansi. Saya amat menikmatinya. Setelah beberapa waktu terakhir ceramah hampir kompak berisi tentang ujaran kebencian tentang pilihan politik, mendengar pameo dalam ceramah seperti menemukan uang di sela kantong celana. Sedikit tapi melegakan. Dua pameo tersebut merujuk pada satu kebiasaan yang terjadi di masyarakat. Semua keluar sesuai porsinya. Tidak bernada menggurui, hanya mengingatkan melalui realita di bulan ramadan.

Sepanjang ceramah tidak ada pembahasan yang menjurus pada topik tertentu. Semua masih dalam koridor dakwah, yaitu mengingatkan. Tidak ada bahasan tentang politik atau satu peristiwa besar lainnya. Dibumbui dengan candaan renyah khas ustadz pinggir kota, tarawih di hari pertama dipenuhi tawa.

Continue reading “Menjadi Nol Kembali”

Air Terjun Versi Ibu

Ada pemandangan unik tiap saya tiba di rumah. Kini ibu sibuk dengan ponselnya. Sudah beberapa kali saya tiba di rumah, ia sedang memandangi ponsel dengan kacamatanya yang mudah melorot dan meninggalkan lap pelnya di lantai begitu saja. Setelah saya ketahui, ibu hanya membuka aplikasi pesan singkat dan berbincang dengan teman-temannya di grup Whatsapp. Saya kadang meledek dan beliau menyambutnya dengan menaruh ponsel lalu melanjutkan mengepel.

Dulu setiap pulang ke rumah, ibu lebih dekat dengan sapu dan lap pelnya. Belum saya memasuki rumah, dari dalam ibu sudah teriak, “lewat pintu samping, lagi di pel”. Ibu dan alat bersih-bersihnya sebagai bagian yang tak bisa dipisahkan. Tidak bisa ia melihat anaknya duduk manis di kursi sambil cekikikan memandang ponselnya. Jika ketahuan, pasti ia meminta untuk membersihkan piring kotor atau melakukan kegiatan yang menjauhkan anaknya dari ponsel. “emang ada apasih di hapenya?” katanya suatu saat. Pertanyaan itu kini berbalik. Saya malah yang beberapa kali menegur dengan kalimat yang sama ketika beliau menegur saya dulu. Saya tidak kaget dengan perubahan yang terjadi pada ibu. Saya melihatnya sebagai kebiasaan yang wajar.

Dengan ponselnya, kini ia dengan mudah mendapatkan informasi yang bertebaran. Kadang ia menanyakan ke saya untuk memastikan kebenaran informasi yang diterimanya. Kadang ia bisa asik sendiri sampai ketiduran. Kedekatan dengan ponselnya pun juga tak mematikan komunikasi dengan anak-anaknya.  Di momen itu, saya melihat ibu dan ponselnya seperti ruang kecil dalam rutinitasnya. Ruang tersebut adalah bagian dari kehidupan ibu yang tak terpisahkan. Dan, setiap orang memiliki ruang tersebut.

Kawan saya, Dodi, sempat mencuitkan sesuatu, ia menanyakan kenapa orang-orang Jakarta mengeluhkan tentang kemacetan, polusi, dan kesemrawutan tapi masih betah tinggal di Jakarta? Saya jawab singkat, mungkin karena kekacauan yang terorganisir. Memang agak ironis, kita mengeluhkan sesuatu di tempat kita biasa mengerjakan sesuatu. Kita memilih “betah” dalam posisi tersebut. Dan kebetahan itu sengaja kita jaga.

Hal yang ditanyakan Dodi sejalan dengan yang Seno tuliskan tentang air terjun. Saya tidak begitu ingat persisnya, tapi kurang lebih menceritakan tentang penciptaan diorama air terjun di dalam rumah. “manusia” kata Seno “entah untuk maksud apa membawa air terjun ke dalam gua garbanya”. Tentu yang disebut air terjun adalah miniatur sederhana yang letaknya biasanya di dalam rumah sehingga penghuni rumah sewaktu-waktu dapat mendengarkan gemericik air ketika bangun tidur atau buang air. “Apakah manusia Jakarta mencoba memecahkan masalah ruang?” sindir Seno

Sebagai pekerja suburban, saya seringkali mengeluhkan tentang ibukota seperti yang disebutkan Dodi. Di sisi lain, saya juga mengakali hal tersebut dengan menciptakan “air terjun” versi saya sendiri sebagai upaya saya untuk mengorganisir kekacauan. Iya, saya mencoba memecahkan “masalah ruang” itu. saya menganggap kerumitan hanya dapat dibayar dengan kerumitan lainnya. Saya mengambil ruang yang berada di luar rutinitas saya. Setidaknya begitu yang saya lakukan untuk berdamai dengan keadaan.

Pikiran-pikiran itu mendadak hilang setibanya di rumah. Ruang-ruang dalam rutinitas ibu seolah mematahkan pertanyaan Dodi dan sindiran Seno. Ia dengan ponselnya, sekali lagi adalah bagian dari rutinitasnya, dan tak mengubah atau menjadikan dirinya sosok yang baru. Beliau tetaplah orang yang bangun pagi buta, masak untuk bekal anaknya, berangkat kerja, kemudian pulang masih disibukkan dengan beberes rumah.  Rutinitas itu ibu jalani dengan biasa saja dan tak bisa saya bayangkan jika menjadi dirinya.

Ibu tak pernah terpikir untuk meninggalkan ibukota setelah ia merasakan kemacetan berjam-jam di jalan, berdesak-desakkan di kereta, atau memboyong air terjun ke dalam rumah untuk menenangkan pikiran. Ibu hanya menjalani apa yang menjadi kewajibannya. Pada titik itu, saya menyadari ibu tak pernah berupaya untuk berdamai dengan keadaan, boleh jadi ia memandang keadaan yang terjadi sebagai hal yang lumrah sehingga tak perlu didamaikan. Ibu dan ponselnya adalah ruang sederhananya untuk mengorganisir kekacauan. Ia tak direpotkan menanggap ruang lain di luar rutinitasnya.

Di saat saya menuliskan ini, ibu memanggil saya, ia meminta diajarkan caranya mengirimkan dokumen ke temannya. Saya tahu permintaannya tak berhenti di situ. ponselnya sedikit dijauhkan dari matanya, kacamatanya dinaikkan ke atas kepala, lalu memijit layar sentuh dengan satu jari. Saya mesem-mesem melihatnya.

Mengamati keseharian yang dilakukan oleh ibu adalah pengalaman yang saya sukai di rumah. Saya seperti kembali ke garis awal. Menyetel ulang tentang imajinasi sebuah ruang. Bahwa ia bukanlah sesuatu yang terdapat di luar rutinitas, ia adalah bagian dari molekul-molekul keseharian kita yang mungkin belum kita sadari. Saat ini, mustahil bagi saya menjalani rutinitas seperti ibu, tapi setidaknya saya bisa memulainya dengan melihat sesuatu dengan biasa saja.