Jangan Diam, Presiden

oleh: Rivanlee Anandar & Puri Kencana Putri*

Wacana penyelesaian kasus pelanggaran HAM berat masa lalu kian santer di telinga. Terlebih lagi, setelah Wiranto (Menkopolhukam) menyampaikan kasus pelanggaran HAM masa lalu yang masih menjadi beban negara akan diselesaikan dengan cara nonyudisial, melalui Dewan Kerukunan Nasional (DKN). Ada dua kejanggalan dari wacana tersebut, pertama, penyelesaian kasus pelanggaran HAM berat masa lalu dengan jalan pintas musyawarah mufakat. Langkah ini dipandang sejumlah pegiat HAM tidak lebih dari sekadar agenda cuci tangan negara untuk melanggengkan ketiadaan hukum. Atau yang sering disebut impunitas. Kedua, langkah non-yudisial yang dipelopori oleh salah satu aktor yang diduga kuat bertanggung jawab atas rangkaian peristiwa pelanggaran HAM berat masa lalu tersebut berpotensi melemahkan makna penegakan hukum di Indonesia.

Adalah penting untuk mengingat siapa Wiranto dalam sejarah impunitas Indonesia. Nama Wiranto disebutkan di dalam rangkaian laporan Komnas HAM; seperti peristiwa penyerangan 27 Juli, Tragedi Trisakti, Mei 1998, Semanggi I dan II, Penculikan dan penghilangan aktivis prodemokrasi 1997/1998, Biak Berdarah, dan juga tidak kalah penting adalah ketika namanya disebut-sebut di dalam sebuah laporan khusus setebal 92 halaman yang dikeluarkan oleh Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di bawah mandate Serious Crimes Unit, yang menyatakan bahwa, Wiranto gagal untuk mempertanggungjawabkan posisi sebagai komandan tertinggi dari semua kekuatan tentara dan polisi di Timor Leste untuk mencegah terjadinya kejahatan terhadap kemanusiaan dan gagalnya Wiranto dalam menghukum para pelaku di dalam institusi TNI. PBB bahkan telah mengusulkan untuk menggelar sebuah peradilan internasional untuk meminta pertanggungjawaban pidana aktor pelanggaran HAM serius di Timor Leste, khususnya Wiranto.

Presiden Abdurrahman Wahid yang saat itu menyatakan bahwa reformasi sistem pemidanaan Indonesia melalui Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM bisa menghadang aktor pelaku pelanggaran HAM; sehingga tidak perlu membuka jalur akuntabilitas internasional. Namun nyatanya ada banyak upaya pelemahan sistem penegakan hukum, khususnya ketika UU ini digagalkan untuk mempidana 18 orang yang diputus bersalah untuk kasus Tanjung Priok, Timor Leste dan Abepura; di mana ke-delapan belas orang tersebut dibebaskan di tingkat banding (KontraS, ICTJ. 2012 hal. 4).

Pembentukan Dewan Kerukunan Nasional (DKN) tentu menjadi tanda tanya besar bagi korban. Terlebih lagi, pada kasus-kasus yang telah menempuh upaya hukum. Keberadaan Dewan Kerukunan Nasional malah menutup jalur-jalur hukum yang telah dibangun dan belum digunakan secara maksimal selama ini.

Continue reading “Jangan Diam, Presiden”

Deugalih di Antara Kolonial dan Milenial

Sekitar dua minggu lalu, saya berencana menemui Galih di kedai makanan di bawah Omuniuum. Pertemuan itu sebetulnya tidak sengaja. Secara kebetulan, kami berada di satu kota yang sama, Bandung. Alasan lain, saya hendak mengintip proses pembuatan album barunya.

Dari arah Dago, saya dan Eka melaju ke Cieumbeuleuit dengan motor sewaan yang suara mesinnya terdengar tak siap dikendarakan jarak jauh. Kami melaju dengan kecepatan rendah sembari khawatir hujan akan turun atau motor yang tiba-tiba tak bernafas. Dengan penuh kehati-hatian, tiba juga kami di emperan toko depan Universitas Parahyangan itu.

Dari kejauhan, samar-samar, saya melihat seorang pria dengan celana jeans belel, sendal gunung, dan kaos kutang dengan tulang pundaknya yang kentara seperti kebingungan mencari seperti mencari sesuatu. Setelannya seolah menantang alam yang sedang tak waras kala itu. ia menghampiri saya, “eh, Van, gimana kabar? aing nyari tukang cd euy. Di mana nyak?” sambut Galih dengan logat sundanya. Tentu tak saya jawab di mana lokasi tukang CD.

Ia menyuruh kami duduk. Beberapa botol bir menganggur di atas meja. Perbincangan dimulai basa-basi, tentang tujuan kami selanjutnya, di mana kami menginap, dan remeh temeh lainnya. Galih kemudian bercerita tentang keperluannya di Bandung dan proses penggarapan album barunya. Tak lama ia bercerita, seorang wanita memberhentikan perbincangan kami.

Continue reading “Deugalih di Antara Kolonial dan Milenial”

Air Hangat di Belakang

Seminggu terakhir, saya pulang telat ke rumah. Alasannya, ada kegiatan tambahan, menghindari jalan yang ramai saat jam pulang kerja, atau saya tidak ingin desak-desakkan di kereta. “suwe temen (lama banget)” kata Ibu ke saya yang baru membuka pintu. Setelah membuka pintu, ia kembali ke posisi semula. Di atas jam 10 malam, ibu pasti sudah membaringkan badan di kasur dengan keadaan televisi menontonnya tertidur.

Suara grasak-grusuk saya menaruh tas, menggantungkan jaket, kembali membangunkannya. “banyu panas’e ning mburi (air hangatnya di belakang)” kata ibu mengingatkan dengan matanya terpejam. air hangat yang disiapkan ini jadi ciri-ciri kalau ada anggota keluarga yang pulang larut. Kebiasaan ini berlangsung sejak saya SD ketika bapak sering pulang malam saya sering diminta ibu untuk memanaskan air. Supaya bapak tidak perlu lagi mengisi ceret dan menjerang air. Atau, kalau airnya sudah tidak terlalu hangat, setidaknya hanya butuh beberapa menit saja dipanaskan.

Selepas mandi, saya rebahan di kasur. Tetiba, menyadari kalau bulan ini bertepatan dengan satu tahun saya menetap di rumah. Sebelumnya selama kurang lebih empat tahun, saya banyak menghabiskan waktu di kos. Kehidupan di rumah berbanding terbalik dengan kehidupan semasa kuliah. Mandi sekali, pulang larut, bangun siang, dan segala kemalasan lainnya hampir menjadi kebiasaan yang membudaya selama kuliah.

Kebiasaan di kos terpatri di diri saya. kebiasaan yang tidak teratur kadung membuat nyaman. Saya kaget beritu kembali ke rumah. Tidak ada yang tidak teratur di rumah. Jadwal yang ajeg, sudut yang rapi, dan keteraturan-keteraturan lainnya membuat saya merasa asing. Padahal, saya tahu, saya hanya kembali.

Continue reading “Air Hangat di Belakang”

Sore Itu Tiga Tahun Lalu

Kau boleh saja mencari segala bentuk dalih yang menyatakan dirimu baik-baik saja, tidak ada satupun hal yang mengganggumu, atau menganggap keadaanmu nyaman saja. Tapi, kau tidak bisa mengelak dari rasa. Ia yang bisa mengubah tingkah lakumu seketika, mengubah persepsimu melihat sebuah keadaan bahwa kau bisa saja hanyut dalam apa yang kau benci pada awalnya. Kau, secara tidak langsung, akan tenggelam dalam suasana melankolis nan dramatis itu.

Kau mulai berpura-pura bahwa kau tidak mengetahui apa-apa. Padahal, tak ada satu jengkal pun yang kau lewati darinya. Jadwal keberangkatan kerja, model pakaiannya, wangi parfumnya, bahkan hal-hal sederhana lainnya, seperti selera humor atau kebiasaan buruknya. Lagi-lagi, kau tidak bisa berdalih dari apa yang sebetulnya kau perhatikan tapi kau menutupinya. Sampai pada satu waktu kau bertanya dalam hati, “mengapa saya melakukannya?”

Continue reading “Sore Itu Tiga Tahun Lalu”