Tahi, Lele, dan, Sekrup Kecil Ibukota

Pada awalnya, blog ini menjadi medium saya untuk merefleksikan apa yang saya rasakan dan pikirkan. Saya melihat konsistensi itu ketika saya kuliah. Paling tidak, target 3-4 tulisan per bulannya masih bisa terkejar. Sekali terpikir, saya buat drafnya di buku catatan atau ponsel, sampai di kamar kos langsung saya tuliskan. Ya, saya melakukannya seolah itu penting … Continue reading Tahi, Lele, dan, Sekrup Kecil Ibukota

Telur Melawan Batu

“dulu, itu pulau kami” ujar Dzulfatiyah, 78 tahun, generasi ketiga masyarakat Gili Sunut. Punggungnya membungkuk, jalannya sudah lamban, dengan segala kekuatannya ia mengantarkan kami ke ujung daratan untuk menunjuk pulau yang pernah didiaminya selama puluhan tahun. Jarinya mengarah sepuluh derajat ke arah kiri, “bangunan yang masih berdiri itu, masjid” katanya lirih. Diterpa angin yang cukup … Continue reading Telur Melawan Batu

Setelah Transjakarta

Semenjak kembali bekerja pascalebaran, saya menggunakan transjakarta sebagai moda transportasi menuju kantor. Alasannya klise, saya mau merasakan suasana baru. Ternyata ketagihan sampai sekarang. Meski tiba di kantor bisa lebih lama, saya tidak perlu berdesak-desakan dengan penumpang dan mendengar ocehan paguyuban pria tanggung Commuter Line. Hampir semua hal yang saya rasakan di kereta berkebalikan dengan yang … Continue reading Setelah Transjakarta

Yang Terlewat Saat Lebaran

Saya percaya tiap tulisan selalu merepresentasi persoalan hidup yang dialami sang penulis. Sekalipun itu kisah fiksi. Mungkin tidak semua, paling tidak sebagian. Ada keriuhan-keriuhan kecil yang coba disisipkan penulis dalam tiap tulisannya. Entah perasaan yang degil, entah kebencian mendasar pada sesuatu. Begitu halnya ketika saya membaca kisah Eka Kurniawan pada salah satu cerpennya, Surau. Meski … Continue reading Yang Terlewat Saat Lebaran