Menuju Senja

Aku masih ingat bagaimana ibu harus tampil di luar rumah, Ia mencoba merias wajahnya, memilih pakaian yang cocok, dan menggoreskan gincu pada bibir. Ia selalu berusaha tampil cantik, sopan dan santun saat berbicara dengan bahasa jawa yang halus dan senyum dengan sibakkan paling ramah sealam raya. Keadaan berbalik saat di rumah, sebelum merias wajahnya, ia … Continue reading Menuju Senja

Dialog Dini Hari

Ibu adalah rumah. rumah yang berdindingkan kemuliaan hati. Rumah yang selalu menggodamu untuk kembali setelah pergi berpuluh-puluh mil. Ia adalah satu-satunya makhluk yang mampu menerima kau sebagaimana bentuk dan perangaimu. Karena bagi Ibu, kau selamanya dianggap seperti anak-anak yang baru belajar merangkak, lalu menuntunmu berjalan, kemudian sesekali membiarkanmu berputar komplek dengan sepeda roda tiga sendirian. … Continue reading Dialog Dini Hari