Tentang

Di tengah kemalasan dan kesibukan yang tidak penting, saya tidak pernah menyangka blog ini akan berumur panjang. multiply.com (sekarang sudah tiada), menjadi media pertama saya untuk menulis. Sampai saya memutuskan untuk pindah platform yang sedikit lebih keren, wordpress dan memutuskan membeli domain.

Awalnya, blog bagi saya adalah sarana untuk bercerita tentang kehidupan pribadi dengan sedikit modernitas karena enggan untuk menulis catatan panjang di buku atausekadar berbagi tips tempat makan murah dan wisata asik. Tapi tidak juga, terhitung sejak akhir 2008 ketika mulai ngeblog, melalui tulisan-tulisan yang sudah terpublikasikan saya bisa melihat perkembangan cara berpikir saya dan tentunya bagaimana saya menulis.

Ada rasa malu melihat tulisan-tulisan saya di awal, tak lebih dari sekadar remeh temeh pemborosan kata. Dan ketika itu saya bayangkan apa yang sebenarnya dibaca dari tulisan saya. Bermanfaat tidak, buang waktu iya. Saya tak menyangkal bahwa sebagian besar tulisan saya dulu merupakan pengaruh yang saya terima dari sekitar, entah teman, entah media sosial, yang umumnya berisi tentang rasa muak akan sikap orang lain atau memperolok saudara sendiri.

Dahulu, orientasi saya membuat blog adalah trafik yang tinggi, pengunjung yang tiap hari kian mampir, sekalipun tulisan saya tidak dibaca sama sekali. Dengan segala harap, iklan masuk ke blog saya dan rupiah mengalir. Nyatanya, hal itu bermanfaat buat orang lain saja. Saya? Hanya uang yang tidak seberapa didapat, sedangkan daya pikir kritis serta perbendaharaan diksi segitu-gitu saja.

Sampai saya belajar mengenali sastra indonesia secara mendalam pada akhir 2013. walaupun saya awalnya  berpikir karya sastra indonesia tak lebih dari cerita cinta tanpa makna atau kumpulan motivasi yang disadur dari internet. Awal 2014 merupakan awal penting bagi saya mengenal Pram, Mochtar Lubis, Goenawan Mohamad, Seno Gumira, Budi Darma,  dan Leila Chudori. Mereka bukan aktivis hashtag yang lahir dari puja puji orang banyak. Bagi saya, mereka adalah pahlawan. Pahlawan yang peduli akan kekayaan bahasa sendiri.

Dari buku-buku sastra lama yang saya baca, saya banyak belajar tentang tata bahasa, kosakata, juga alur berpikir dari cerita yang dibuat. Pram membuat saya sadar bahwa dengan menulis, suara yang membatu dipikiran dapat cair dengan dituliskan.

Agaknya kita harus bersyukur, hidup setelah zaman kedua kubu kebudayaan (Manikebu dan Lekra) yangsempat sengit mempertentangkan suatu karya dan mempertahankan masing-masing ideologi. Kini, idealnya kita nikmati itu semua dengan belajar dari sejarah. Tentang bagaimana cara bertutur melalui tulisan, tentang bagaimana menyampaikan sebuah pesan.

Tentu setiap orang memiliki cara dan jalan sendiri dalam mengisi blog-nya, berbagi kisah, berbagi tips, berkeluh kesah, berbagi rincian perjalanan, dan lain-lain. Hak setiap orang sebuah blog akan dikemas seperti apa. tulisan-tulisan tersebut setidaknya akan menggambarkan sedikit banyak tentang penulisnya.

di blog ini saya tidak membatasi tentang apa yang saya tulis. Dalam tiap tulisan, saya mencoba memaparkan sesuatu dari kegiatan yang saya jalani sehari-hari. lebih dari itu,  ada buah pikir yang sekiranya bermanfaat bagi saya dan orang lain, selebihnya terserah pembaca mempersepsikan tulisan saya. seperti yang diungkapkan Pram, “menulislah terus. Jangan pedulikan apa dibaca orang atau tidak. Suatu saat pasti tulisan itu akan berguna”

Mungkin nanti atau suatu saat tulisan saya lebih sering berjalan jauh ketimbang langkah kaki saya.